Mohammad Hatta merupakan putra dari pasangan Muhammad Djamil dan Saleha Djamil yang lahir di Bukit Tinggi pada tanggal 12 Agustus 1902. Ayahnya meninggal dunia pada usia 30 tahun ketika Hatta masih berusia delapan bulan. Hatta memiliki seorang kakak perempuan bernama Rafiah dan empat orang adik tiri yang semuanya perempuan.

Ketika Hatta lahir, ia diberi nama Mohammad Athar dan biasa dipanggil Atta (Mohammad Hatta, 2011: 6). Anak laki-laki dari seorang ulama dan cucu seorang pemimpin tarekat yang terkenal ini menanamkan dalam dirinya perasaan kewajiban untuk memegang teguh tradisi keagamaan keluarganya.

Sejak usia tujuh tahun, Hatta melewatkan waktu-waktu singkat di surau Batu Hampar bersama pamannya yang bernama Syekh Arsyad yang menjabat sebagai pemimpin setelah kakek Hatta meninggal. Syekh Arsyad mendesak ibu Hatta agar mengizinkan anaknya mengikuti jejak sang ayah dan belajar agama di Mekah, kemudian melanjutkan pendidikan di universitas di Kairo. Akan tetapi, ibu Hatta dan adiknya yang bernama Saleh menolak sepenuhnya usul tersebut. Mereka hanya setuju bahwa Hatta harus menerima pendidikan lanjutan di Arab dalam hal dia sendiri yang ingin belajar agama di sana.

Hatta mengajukan sudut pandang keagamaannya sendiri dengan mempertahankan keyakinannya bahwa sosialisme merupakan prinsip dasar dalam Islam. Hatta menyatakan bahwa Syekh Arsyad telah mengajarkannya supaya secara sosial sadar dan mengelola kebutuhan rakyatnya sendiri dengan menekankan bahwa “seperti Tuhan yang mencintai kita, maka kita pun harus saling mencintai”.

Deskripsi Hatta tentang pamannya menunjukkan adanya seorang pemimpin Islam yang puritan dan asketik sekaligus baik budi, seimbang, dan manusiawi, seorang yang lebih menyukai perdamaian dibandingkan fanatik agama yang memimpin jihad. Unsur menarik dari Syekh Arsyad adalah bahwa dia tidak mendukung konsep suatu negara Islam dengan mengutip Kekaisaran Ottoman sebagai sebuah contoh mengenai keruntuhan politik yang memburukkan nama Islam.

Hatta mengatakan bahwa kebangsaan seperti yang dia cita-citakan tidak berlawanan dengan Islam. Hal ini dia buktikan dengan menjadi muslim yang taat sekaligus berpaham kebangsaan. Hatta melihat bahwa pemerintah yang berdasar agama tidak sesuai lagi untuk negeri yang rakyatnya berlainan agama. Bagi Hatta, pemerintah harus berdasar pada program politik dan harus dengan dasar “demokrasi tulen”, yaitu bagaimana memperbaiki penghidupan rakyat dan menjaga keselamatan rakyat.

Adapun mengenai agama, hal itu merupakan urusan golongan masing-masing, sedangkan urusan negeri merupakan kerja pemerintah. Hatta ketika itu cenderung memisahkan antara agama dengan ilmu dan antara agama dengan urusan dunia. Hal ini bukan berarti bahwa agama tidak penting, tetapi agama tidak menjadi urusan hidup bernegara.

Pada tahun 1939, pandangan Hatta tentang Islam lebih jelas dia ungkapkan. Dalam artikelnya “Perdamaian yang Sejati”, dia mengemukakan kegagalan Persekutuan Bangsa-Bangsa (Volkenbond) karena dasar mendirikannya tidak sesuai dengan cita-cita perdamaian. Dalam hal ini Hatta menekankan bahwa Islam menyimpan cita-cita perdamaian yang sejati. Dia merujuk pada Surat Al-Fatiha sebagai Al-Rahman (Maha Pengasih), Al-Rahim (Maha Penyayang), dan Maha Adil.

Persaudaraan antarmanusia, termasuk antarbangsa, hanya dapat terbina dengan tegaknya keadilan seperti yang dimiliki Islam. Di sini Hatta telah menunjuk pada paham agama yang tidak hanya terbatas pada persoalan ibadah atau rohani dan pribadi semata, melainkan mencakup juga soal masyarakat, yakni soal dunia. Jika Hatta berpikir perlunya kedamaian itu tegak di dunia, dia juga tentu berpikir tentang perlunya kedamaian itu tegak di Tanah Air.

Kemudian perhatian Hatta terhadap kehidupan di Tanah Air dan Islam, dia tegaskan dalam hubungan dengan sosialisme. Dia berkeyakinan tentang sesuainya sosialisme dengan Islam. Dalam Islam, seorang hamba tunduk pada kehendak Allah swt. sehingga seorang Muslim hendaknya membaktikan hidup dan perjuangannya pada persaudaraan umat manusia dan keadilan mereka. Menurut Hatta, hal tersebut hanya dapat dilaksanakan dengan susunan yang sosialistis sehingga bagi kaum Muslimin perjuangan untuk sosialisme adalah ibadat yang merupakan perintah Allah yang tidak dapat dielakkan.

Dalam kaitannya dengan demokrasi, salah satu sumber yang menjadi dasar pemikiran Hatta adalah ajaran Islam tentang kebenaran dan keadilan yang dikaitkan dengan tugas manusia sebagai khalifah Allah (penyebar kebaikan) di muka bumi. Hatta merupakan penganut paham sosialisme demokrasi atau demokrasi sosial yang berdasar pada ajaran Islam (sosialisme religius).

Hatta menyebutkan bahwa ajaran Islam yang dianutnya sebagai salah satu rujukan bagi paham demokrasi yang dianutnya. Hatta mewarisi ajaran Islam yang bersifat hakiki, yang mana keyakinan dan segala tindakan baik yang dilakukan dalam kehidupan di dunia ini merupakan wujud pengabdian kepada Allah. Hatta memahami ajaran Islam sebagai sumber pembentuk gagasannya tentang demokrasi, yaitu ajaran Islam yang mengutamakan keadilan, persaudaraan, dan perdamaian.

Substansi demokrasi Hatta adalah mass protest atau sikap kritis rakyat terhadap penguasa, musyawarah untuk mencapai mufakat, dan tolong-menolong (Zulkifri Sulaeman, 2010: 18). Dua substansi yang pertama menjadi dasar untuk mewujudkan demokrasi politik, sedangkan substansi ketiga menjadi dasar bagi demokrasi ekonomi. Dengan  ketiga substansi ini, Hatta berkeyakinan, kedaulatan rakyat akan terwujud baik dalam kehidupan politik maupun dalam kehidupan ekonomi.