Pernahkah kamu mendengar kata nyai? Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata nyai?

Bila pertanyaan ini ditanyakan kepada orang-orang di masa kolonial Hindia Belanda, mungkin kamu akan mendapatkan respon yang bermacam-macam.

Mungkin ada yang tersenyum pahit, memasang wajah sinis, atau malah melengos dan tertawa terbahak-bahak. Nyai pada masa itu ditujukan kepada para perempuan muda, setengah baya yang menjadi gundik atau perempuan simpanan para lelaki Eropa.

Stigma nyai seringkali buruk, mereka dianggap hanya sebagai simpanan, meski nyai ini lalu tinggal di rumah sang lelaki dan memasak serta mengurus keperluan rumah tangganya. Kedudukan nyai terkadang tidak jelas, ia bukan lagi pribumi namun juga belum berada pada tingkatan yang sama dengan para lelaki Eropa. Ada nyai yang tinggal di kota-kota besar seperti Batavia, di tangsi-tangsi militer dan juga perkebunan di daerah Deli.

Faktanya, tidak banyak yang tahu tentang fenomena pergundikan ini, bahkan jarang sekali dibahas di dalam buku sekolah. Mungkin hal  ini dianggap tabu untuk dibicarakan, namun mau tidak mau ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa disembunyikan begitu saja.  Berikut ada kisah nyata profil beberapa nyai, yuk dibaca!

Entijh

Entijh adalah salah satu nyai yang kisahnya diceritakan oleh Reggie Baay di dalam bukunya Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda. Entijh diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1887 di dekat Cimahi. Entijh kelak akan menjadi gundik dari Popke, seorang laki-laki Eropa yang berasal dari Groningen dan tiba di Hindia Belanda dengan tujuan menjadi serdadu pada tahun 1901.

Seperti kebiasaan yang ada pada saat itu, Entijh pun mencari pekerjaan. Selanjutnya Entijh pun menjadi gundik Popke. Mereka lalu tinggal di tempat penjilidan buku di pinggiran kampung. Dari hubungan ini lahir 12 anak. Popke selanjutnya menikahi Entijh setelah kelahiran anak yang keempat.

Entijh sendiri hanya bisa berbicara dalam Bahasa Sunda. Ia menyampaikan ajaran hidup kepada anak-anaknya dengan Bahasa Sunda pula, seperti contohnya éléh wae  yang berarti tidak apa-apa jika mengalah.

Pada masa pendudukan Jepang, Popke meninggal dunia. Entijh ditinggalkan bersama ketiga anak bungsunya. Setelah Indonesia merdeka, sebagian besar anak-anak Entijh memilih untuk pergi ke Belanda, namun Entijh tetap memilih untuk tinggal di Indonesia.

Entijh tutup usia pada 15 Desember 1958. Sedihnya, tak ada seorang naknya pun yang menemaninya dalam masa tuanya. Kelak, anak-anaknya menyesal dan salah satu putranya mengemukakan sesuatu dalam Bahasa Sunda, yaitu “Hampura eukeur sakitowae” yang artinya “ampuni saya untuk apa yang tidak saya lakukan”.

 

Marie atau Olus

Nyai lainnya yang juga diceritakan oleh Reggie Baay adalah Marie. Marie lahir dari ayahnya yang berkebangsaan Afrika yang merupakan tentara KNIL Afrika dan ibunya adalah perempuan pribumi bernama Nikem.

Marie mengalami kisah yang cukup dramatis sewaktu ia masih kecil. Ayahnya meninggal sewaktu Marie masih berada di pangkuannya. Ibunya lalu hampir gila, namun para penduduk sekitar berhasil menyelamatkannya.

Marie lalu hidup di tangsi tentara kolonial di Jawa Tengah. Ia hidup sebagai seorang gundik. Tuannya adalah pasukan yang ditugaskan di Aceh. Namun, Marie lalu “diambilalih” oleh seorang lelaki Eropa yang bernama Hendrik. Marie dan Hendrik lalu hidup dalam pergundikan.

Marie dan Hendrik lalu memutuskan untuk menikah pada 21 Maret 1914, setelah kelahiran anak ketiga mereka. Kemudian ketika perang meletus, mereka berhasil menyelamatkan diri, lalu akhirnya mereka berangkat ke Belanda. Hendrik ternyata merindukan iklim di Indonesia, namun Marie tidak pernah mengeluh. Hendrik meninggal pada 1956. Marie lalu hidup dengan salah satu anaknya hingga ia meninggal di Zeeland pada 6 Januari 1974.

Kisah para nyai sudah sepatutnya diketahui oleh para generasi muda, bukti nyata bahwa kaum perempuan sempat mengalami masa-masa seperti ini pada zaman dahulu.