Oemar Said Tjokroaminoto lahir pada tanggal 16 Agustus 1882 di desa Bakur, Madiun. Anak kedua dari Raden Mas Tjokroamiseno ini berhasil menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Belanda tingkat dasar pada tahun 1897. Ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah calon pegawai pemerintah pribumi atau Opleidings  School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di kota Magelang dan dinyatakan lulus pada tahun 1902.

Setelah menikah, Tjokroaminoto melangkahkan kakinya menuju kota Semarang untuk mencoba penghidupan baru. Di sana Tjokroaminoto memilih bekerja sebagai kuli pelabuhan yang bertugas memuat dan membongkar barang dari kapal. Pekerjaan ini sebenarnya tidak cocok untuk Tjokroaminoto, tetapi ia melakukannya sebagai tempat pembelajaran untuk menghayati kehidupan masyarakat kelas bawah (Djoko Marihandono, dkk, 2015: 88).

Cara pandangnya dalam memperjuangkan kesejahteraan dan kepentingan hidup kaum buruh ia realisasikan dengan menjadikan rumahnya (1913-1921) sebagai tempat belajar dan mengembangkan ideologi kerakyatan, demokrasi, dan sosialisme guna menentang keras paham kapitalisme dan imperialisme.

Silsilah kyai yang dimiliki Tjokroaminoto menjadikan pemikiran dan gagasannya bercorak religius. Ditambah lagi pengaruh-pengaruh pemikiran yang ia ambil dari pemikir-pemikir Timur Tengah, India, Afganistan, dan Mesir, seperti Jamaluddin al-Afgani, Sayyid Quthb, dan Muhammad Iqbal menjadikannya seorang pemikir yang sangat religius sekaligus revolusioner (Darussalam, 2013: 42).

Pergaulannya dengan tokoh-tokoh seperti Agus Salim, Natsir, dan lain sebagainya turut memberikan pengaruh penting bagi pemikirannya. Tjokroaminoto juga tidak tertutup dengan aliran pemikiran yang datang dari Barat. Ia banyak membaca dan belajar dari karya Karl Marx, Hegel, Angels, dan lain sebagainya.

H.O.S. Tjokroaminoto sangat aktif dalam upaya memberikan jalan keluar bagi bangsa Indonesia untuk lepas dari penindasan, salah satunya melalui gagasan yang ia kemukakan. Ia memikirkan cara bagaimana agar masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam dapat kembali menggali nilai atau ajaran yang telah ada. Sosialisme dianggapnya sebagai sebuah landasan gerakan perjuangan yang sangat tepat untuk menghimpun kekuatan dan menyatukan solidaritas masyarakat Indonesia yang telah ditindas ratusan tahun oleh pihak penjajah.

Tjokroaminoto dalam bukunya yang berjudul Islam dan Sosialisme secara jelas menentang konsep-konsep sosialisme Marx dan kapitalisme karena konsep tersebut menjauhkan manusia dari agama dan memperlihatkan watak individualisme yang rakus untuk menimbun harta yang kemudian dijadikan sebagai alat untuk menindas rakyat. Tjokroaminoto membandingkan temuannya dengan pemikirannya sendiri mengenai dasar-dasar sosialisme dalam Islam dengan memetik sejumlah ayat dalam al-Qur’an.

Menurut Tjokroaminoto, melalui sosialisme Islam hak individu masyarakat tetap terjamin. Hal yang paling penting bukanlah membangun kondisi ‘sama rata sama rasa’, tetapi membangun semangat berkompetisi dengan keahlian masing-masing karena setiap orang dilahirkan tidak untuk sama rata dan sama rasa dengan orang lain.

Setiap orang bebas mengembangkan keahliannya, memperoleh kekayaan dengan keahliannya itu, namun tidak dengan jalan menindas orang lain. Pengakuan terhadap kepemilikan pribadi dalam konsep sosialisme Islam Tjokroaminoto menyebutkan bahwa ia tidak melarang seorang muslim untuk memperkaya diri mereka sendiri selama sebagian dari hartanya itu diberikan kepada siapapun yang berhak menerimanya.

Meskipun mendapatkan pengaruh dari tokoh-tokoh pemikir Barat, sosialisme Islam Tjokroaminoto bukanlah penggabungan antara ajaran sosialisme Barat dan ajaran Islam. Tjokroaminoto menyatakan bahwa cita-cita sosialisme dalam Islam telah ada dalam praktik kehidupan yang telah dicontohkan oleh nabi besar Muhammad saw.

Dengan begitu, pada dasarnya konsep sosialisme dalam Islam telah berkembang jauh sebelum munculnya gagasan-gagasan sosialisme di Barat (Tjokroaminoto, 1963: 13). Pandangan Tjokroaminoto yang demikian menunjukkan bahwa sosialisme Islam merupakan sosialisme yang didasarkan pada ajaran agama Islam.