Abdurrahman Wahid yang lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang, Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940.

Pemberian nama Abdurrahman Addakhil, terutama kata Addakhil jelas merujuk pada nama pahlawan dari dinasti Umayyah yang secara harfiah berarti Sang Penakluk (Muhammad Rifai, 2014: 27). Sebagaimana diketahui dalam sejarah peradaban Islam, Addakhil adalah tokoh yang membawa Islam ke Spanyol dan mendirikan peradaban yang berlangsung di sana selama berabad-abad.

Akan tetapi, karena kata “Addakhil” tidak cukup dikenal akhirnya diganti dengan nama Wahid sehingga menjadi Abdurrahman Wahid yang lebih akrab dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berarti “abang” atau “mas”.

Secara genetik, Abdurrahman Wahid tergolong keturunan “darah biru”. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim merupakan putra dari K.H. Hasyim Asy’ari, yaitu seorang pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Sementara itu, ibundanya yang bernama Ny. Hj. Sholehah merupakan putri dari pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Selain itu, kakek Abdurrahman Wahid dari pihak ibu juga merupakan tokoh NU yang menjadi Rais ‘Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Abdurrahman Wahid merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus dan dua tokoh bangsa Indonesia. Pada tahun 1949, ketika bentrokan dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayah Abdurrahman Wahid diangkat sebagai Menteri Agama pertama yang menyebabkan mereka sekeluarga harus pindah ke Jakarta. Kepindahannya ke Jakarta secara tidak langsung mendorong Abdurrahman Wahid untuk berkenalan dengan dunia politik sebab kesehariannya bertemu dengan kolega ayahnya dari berbagai bidang profesi.

Abdurrahman Wahid memulai pendidikan dasarnya di SD KRIS sebelum kemudian pindah ke SD Matraman Pertiwi, Jakarta Pusat. Pada tahun 1955, Abdurrahman Wahid melanjutkan pendidikannya ke SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowangan, Yogyakarta, sambil belajar di Pesantren Krapyak. Di pesantren ini, kegemarannya terhadap buku semakin meningkat.

Setelah menyelesaikan studinya di SMEP, Abdurrahman Wahid melanjutkan pendidikannya di Pesantren Tegalrejo, Magelang. Di sini, ia belajar kepada Kiai Khudori yang merupakan salah satu dari pemuka NU (Greg Barton, 2000: 52). Setelah menghabiskan dua tahun di pesantren Tegalrejo, dia pindah kembali ke Jombang dan tinggal di Pesantren Tambak Beras. Di pesantren milik pamannya (K.H. Abdul Fatah) ini, Abdurrahman Wahid menjadi seorang ustadz dan menjadi ketua keamanan.

Pada usia 22 tahun, Abdurrahman Wahid berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji, kemudian diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar. Pertama kali tiba di Mesir, dia merasa kecewa karena tidak dapat langsung masuk ke Universitas al-Azhar. Hal itu disebabkan dia harus masuk Aliyah (semacam sekolah persiapan) terlebih dahulu di sana. Di sekolah dia merasa bosan karena harus mengulang mata pelajaran yang telah ditempuhnya di Indonesia.

Oleh karena itu, Abdurrahman Wahid sering mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika (USIS) serta toko-toko buku untuk menghilangkan kebosanannya. Pada tahun 1966, Abdurrahman Wahid pindah ke Irak. Di Irak, dia masuk ke dalam Department of Religion di Universitas Bagdad sampai tahun 1970. Tahun 1971 merupakan akhir dari perjalanan studi Abdurrahman Wahid. Ia pun pulang ke Indonesia dan kembali ke dunia pesantren.

Sosok K.H. Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur semakin bertambah populer dan kontroversial ketika ia terpilih sebagai Presiden RI dalam SU MPR bulan Oktober 1999. Tidak hanya itu, langkah-langkah politiknya sebagai presiden juga cukup membingungkan orang. Masa pemerintahannya tidak jarang menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Abdurrahman Wahid memiliki konsep bahwa Tuhan tidak perlu dibela sebab yang sebenarnya perlu dibela adalah umat-Nya atau manusia pada umumnya. Oleh karena itu, Abdurrahman Wahid tidak pandang bulu, tidak membedakan agama, etnis, warna kulit, posisi sosial, agama apapun untuk membela kaum minoritas atau kelompok yang tertindas.

Di era kepemimpinannya sebagai Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid semakin merealisasikan konsep pluralismenya dalam tindakan nyata untuk mewujudkan persatuan di Indonesia. Salah satunya adalah mengembalikan hak-hak umat beragama Kong Hu Cu yang terpasung selama Orde Baru atau mencabut peraturan yang melarang kegiatan adat warga Tionghoa secara terbuka.

Tidak hanya itu, Abdurrahman Wahid juga berusaha melakukan penyelesaian konflik di Nanggroe Aceh Darussalam secara damai dan menetralisir daerah Irian Jaya dengan mendorong penggunaan nama Papua. Ketika sejumlah tokoh nasional mengecam pendekatannya dengan Aceh, Abdurraman Wahid justru tetap memilih penyelesaian yang simpatik dengan mengajak tokoh GAM untuk duduk satu meja dalam membahas permasalahan di Aceh secara damai.

Meskipun kepemimpinan Abdurrahman Wahid tidak berlangsung lama, namun dia tidak pernah berhenti untuk melanjutkan karir dan perjuangannya mengembangkan sikap pluralis dalam diri masyarakat Indonesia. Hal itu dapat dilihat pada tahun 2002 ketika Abdurrahman Wahid menjabat sebagai Penasihat Solidaritas Korban Pelanggaran HAM.

Kemudian pada tahun 2003, Abdurrahman Wahid kembali menjadi penasihat dalam Gerakan Moral Rekonsiliasi Nasional. Pada tahun 2005, Abdurrahman Wahid menjadi pemimpin koalisi Nusantara Bangkit Bersama didampingi Tri Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung, dan Megawati yang mana koalisi ini mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada tahun 2009, Abdurrahman Wahid menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Rabu, 30 Desember 2009 di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta pukul 18:45 WIB. Abdurrahman Wahid kini memang telah tiada. Akan tetapi, pemikiran serta nilai-nilai yang diajarkannya harus tetap dijaga guna menjunjung tinggi nilai keberagaman dan tetap saling menghormati demi kesatuan bangsa dan negara Indonesia.

Sumber Foto: gusdur.net