museumberjalan.id – Wabah virus Corona menyebar begitu cepat dan Indonesia adalah salah satu negara terdampak. Virus corona alias COVID-19 pertama kali dilaporkan mewabah di Wuhan, Cina pada Desember 2019. Kemudian, penyebaran COVID-19 meluas hingga keluar daratan Cina begitu memasuki tahun 2020.

Pada 2 bulan awal di tahun 2020, di Indonesia belum ada laporan mengenai warganya yang terinfeksi corona. Entah tidak ada laporan sungguhan atau ada yang ditutup-tutupi oleh pihak yang berwenang. Memang ada Warga Negara Indonesia (WNI) yang terjangkit, itu terjadi di luar teritorial NKRI.

Hingga pada akhirnya tanggal 2 Maret 2020, untuk pertama kalinya Pemerintah Indonesia melaporkan 2 orang warganya positif terkena virus corona seperti yang banyak diwartakan oleh media.

Pemberitaan dari banyak media di Indonesia tidak hanya menyorot penyebaran virus corona yang begitu cepat di awal tahun 2020. Banyak pula tulisan beredar yang mengaitkan penyebaran corona dengan siklus penyebaran wabah penyakit tiap 100 tahunan yang telah terjadi sejak tahun 1720. Apakah saja itu?

Wabah Besar Marseille 1720-1722

Dilansir dari laman resmi knowledgetime.net, pada tahun 1720 di kota Marseille, Prancis muncul wabah penyakit yang mengakibatkan sekitar 100.000 orang meregang nyawa. Wabah ini dikenal pula dengan nama “Wabah Besar Marseille”.

Wabah penyakit yang melanda Marseille di tahun 1720 disebut-sebut sebagai kambuhan terakhir dari wabah pes yang sangat marak di Eropa pada tahun 1331 yang menyebabkan “Kematian Hitam” alias Black Death, seperti dikutip dari Marseille, 2,600 ans d’histoire (2004) karya Roger Duchêne dan Jean Contrucci.

Baca Juga: Kapan Penyakit Cacar Pertama Kali Menjangkit Indonesia?

Penyebarannya bermula dari berlabuhnya kapal dagang Grand-Saint-Antoine di Marseille setelah berlayar dari Sidon, Libanon. Sebelumnya kapal itu sempat mengunjungi Yunani, Libya, dan Siprus. Seorang awak yang berasal dari Turki terinfeksi penyakit setelah pelayaran dari Siprus dan menular kepada beberapa awak kapal lainnya.

Meski seluruh awak kapal sempat dikarantina, tetapi wabah pes merebak seantero Marseille. Sekitar 50.000 dari 100.000 penduduk Marseille tewas dan juga menyebabkan kematian 50.000 penduduk di kota sekitarnya selama kurun dua tahun.

Wabah Kolera 1817-1824

Kemudian ada wabah kolera yang merambah beberapa penjuru dunia pada 1820-an. Awalnya bibit kolera disebutkan pertama kali endemik atau hanya ada di hilir Sungai Gangga berdasarkan laporan berjudul Epidemics and Pandemics: Their Impacts on Human History (2005) milik J.N. Hays.

Seperti yang diketahui, Sungai Gangga merupakan salah satu sungai yang dianggap suci oleh umat Hindu di India dan sekitarnya. Faktor inilah yang membuat Sungai Gangga kerap ramai diziarahi.

Baca Juga: Bagaimana Cara Mengobati Penyakit Cacar Pada Masa Lalu?

Dhiman Barua dan William B. Greenough III dalam Cholera (1992) menyebutkan, bahwa para peziarah sering terkena penyakit akibat konsumsi air sungai yang tidak higienis dan menularkannya begitu kembali ke daerah asalnya dan akhirnya menjadi pandemi atau wabah penyakit yang meluas. Disebutkan pula bahwa di kota Jassore (kini Bangladesh) menjadi asal penyakit kolera muncul di tahun 1817.

Sumber lain dari Beholden: Religion, Global Health, and Human Rights (2015) karya Susan R. Holman mengatakan, para ahli epidemiologi dan sejarawan kesehatan menilai kolera mulai menyebar sejak kegiatan ziarah Kumbh Mela di hulu Sungai Gangga pada tahun 1817.

Sejak 1817 penyebaran kolera mulai meluas hingga keluar anak benua India. Dalam laporan J.N. Hays, kolera diidentifikasi di Siam (kini Thailand) pada bulan Maret 1820. Kemudian menyebar ke Manila pada Mei 1820. Setahun berselang, kolera terjadi di Jawa, Oman, dan Anhai di Cina.

Tahun 1822 kolera dilaporkan melanda Jepang, Persia (kini Iran), dan Suriah. Lalu di tahun 1823, kasus kolera ditemukan di Mauritius, Zanzibar (kini Tanzania), dan Astrakhan, Rusia. Penularan kolera kemudian mereda di tahun 1824 yang diyakini oleh beberapa peneliti yang percaya akibat musim dingin yang membunuh bakteri penyebab kolera di air.

Total korban kolera selama wabah tujuh tahun itu belum dapat dipastikan jumlahnya. Hanya terdapat laporan mengenai jumlah korban di suatu wilayah yang terdampak. Sebut saja, kota Bangkok yang kehilangan sekitar 30.000 penduduknya dan penduduk sejumlah 1.125 tewas di Semarang selama kolera mewabah.

Wabah Flu Spanyol 1918-1920

Kali ini ada wabah penyakit yang namanya diambil dari suatu negara Eropa. Meski begitu, flu Spanyol bukan berasal dari negeri Spanyol. Dilansir dari historia.id, penamaan flu Spanyol berdasarkan pemberitaan media-media Spanyol yang begitu terbuka berkat netralitas negerinya dalam menghadapi Perang Dunia I.

Pemberitaan itu menyebar luas dari dalam negeri Spanyol ke seantero Eropa sehingga wabah penyakit itu dinamakan Flu Spanyol. Meski begitu, orang-orang Spanyol menamakan wabah itu sebagai Flu Perancis.

Banyak sumber menuturkan awal munculnya flu Spanyol. Layaknya suatu pandemi, awalnya flu ini merupakan suatu penyakit endemik yang hanya melanda suatu wilayah tertentu.

Para virologis Inggris yang dipimpin John Sydney Oxford menyebutkan sebuah kemah besar dan rumah sakit prajurit di Etaples, Prancis sebagai tempat pertama kalinya flu Spanyol muncul, dalam sebuah penelitian yang diterbitkan tahun 1999.

Pendapat ini didasarkan pada laporan dokter militer mengenai munculnya penyakit baru dengan tingkat kematian yang tinggi dengan gejala mirip influenza. Perkemahan dan rumah sakit yang penuh sesak oleh korban perang membuat penyebaran virus begitu cepat.

Selain itu lokasi perkemahan juga cukup dekat dengan peternakan babi dan unggas. Faktor inilah yang membuat tim virologis Inggris ini menduga kemunculan virus berawal dari tempat peternakan sebelum menular ke manusia.

Ada pula pendapat lainnya. Sejarawan Amerika, Alfred W. Crosby dan John M. Barry mengklaim bahwa flu berbahaya itu berasal dari Kansas. Dua wilayah yang disebut oleh mereka ialah Camp Funston dan Haskell County.

Baca Juga: Pemerintah Terapkan Darurat Sipil, Kapan Pertama Kali Muncul?

Hingga meredanya pandemi di penghujung 1920, sekitar 500 juta orang terinfeksi, atau 27% populasi dunia yang berada pada angka 1,8-1,9 miliar. Ini termasuk orang-orang yang tinggal di daerah terpencil, seperti orang-orang di kepulauan Pasifik dan kutub utara.

Korban tewas disebutkan sekitar 40-50 juta orang, dengan kemungkinan tertinggi mencapai 100 juta orang. Catatan inilah yang menjadikan flu Spanyol sebagai salah satu wabah penyakit paling mematikan dalam sejarah umat manusia.

Apakah Konspirasi?

Berdasarkan pengamatan penulis, ada kesamaan di antara waktu merebaknya wabah Marseille, kolera, flu Spanyol, hingga corona. Keempatnya terjadi pada tahun yang berakhiran angka 20. Tahun 1720 untuk wabah pes di Marseille. Tahun 1820 untuk kolera. Tahun 1920 untuk flu Spanyol. Terakhir, 2020 untuk corona.

Namun, patut diperhatikan pula ada perbedaan mengenai waktu di antara empat pandemi tersebut. Tidak semuanya bermula di tahun yang mengandung unsur 20. Kolera dilaporkan pertama kali muncul tahun 1817. Flu Spanyol diduga pertama kali terjadi antara 1917-1918. Corona sendiri pertama kali diberitakan pada akhir 2019, bukan 2020. Hanya wabah Marseille yang bermula tahun 1720.

Dari sini saja dapat dilihat bahwa kesamaan unsur tahun 20 agak dipaksakan. Kebetulan yang dibuat-buat. Selain itu, wabah yang telah terjadi di masa yang lalu, periodenya berbeda-beda. Hemat penulis, ini merupakan cocoklogi saja. Menyangkutpautkan corona yang mewabah di awal 2020 dengan pes, kolera, hingga flu Spanyol yang membuat seakan-akan tiap seratus tahun ada penyakit berbahaya yang muncul.

Padahal wabah penyakit berbahaya tidak hanya empat itu saja. Ada juga wabah penyakit yang pernah terjadi di luar kurun tahun serba 20 dalam jangka 400 tahun yang menjangkiti banyak wilayah di dunia. Dikutip dari historia.id, terdapat penyakit flu Rusia (1899), flu Asia (1957), HIV/AIDS (1981), hingga SARS (2003).

Belum lagi jika menilik fakta bahwa pandemi kolera bersifat kambuhan. Kolera tidak hanya mewabah di kurun 1817-1824. Setidaknya ada 6 kali lagi wabah kolera kambuh setelah 1824, yakni pada 1826-1837, 1846-1860, 1863-1875, 1881-1896, 1899-1923, dan 1961-1975.

Khusus di Indonesia jangan lupakan pula macam penyakit seperti malaria dan cacar yang beberapa kali penyebarannya meluas seantero Nusantara. Kini virus corona pun turut hadir dalam sejarah kesehatan di Indonesia.

Sejatinya kemunculan penyakit bisa kapan saja dan sulit diprediksi. Tidak mesti 100 tahun sekali. Mengenai siklus seratus tahunan, penulis menyimpulkan bukanlah konspirasi. Kenyataannya dalam rentang 400 tahun sejak 1720 ada banyak pandemi lainnya yang tidak hanya muncul seratus tahun sekali. Mari doakan semoga virus corona segera menghilang dari Indonesia juga di seluruh negara.