Sudah 22 tahun berselang, Reformasi telah berjalan di Indonesia. Indonesia yang dulunya sebuah negara otoriter di bawah kekuasaan Rezim Orde Baru, kemudian beralih menjadi sebuah negara demokratis.

Tentunya semua ini bermula karena adanya Krisis Finansial Asia 1997, yang membuat kepercayaan sebagian besar masyarakat hilang pada pemerintahan Presiden Suharto. Sehingga terjadi aksi demonstrasi besar-besaran para mahasiswa hingga menduduki Gedung MPR RI. Akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998, Presiden Suharto menyatakan berhenti sebagai Presiden RI.

Keberhasilan gerakan Reformasi sendiri memang milik semua stakeholder dalam gerakan mahasiswa dalam semua spektrum ideologi baik kelompok kiri hingga kanan. Juga dari Organisasi Masyarakat Kepemudaan (OKP) yang termasuk Kelompok Cipayung plus (HMI, GMNI, PMII, PMKRI, GMKI, IMM, KMHDI, HIKMAHBUDHI).

Dari berbagai gerakan memunculkan figurnya masing-masing pada saat itu, Anas Urbaningrum hadir sebagai figur bagi Kelompok Cipayung. Sebagai Ketua Umum PB HMI 1997 – 1999, ia hadir sebagai avant garde dalam gerakan Reformasi. Anas Urbaningrum hadir dengan menulis banyak gagasannya dalam media massa dan dalam bukunya-bukunya yang ia terbitkan pada masa-masa kritis itu.

HMI yang pada masa Orba dianggap sebagai anak emas penguasa, karena banyak alumni-alumninya yang menjadi elite pada masa Orde Baru. Rupanya tidak membuat para kader-kadernya kehilangan kritisisme terhadap pemerintah. Padahal pada 5 Februari 1997, HMI baru saja merayakan ulang tahunnya ke-50. Bahkan Dies Natalis dibuka dan dirayakan di Istana Negara dan dihadiri oleh Presiden Suharto.

Kemudian diadakan peresmian Gedung Graha Insan Cita (GIC) di Depok yang dihadiri oleh para elite pemerintahan yang merupakan alumni HMI seperti Akbar Tandjung, Beddu Amang, dan juga Ketua Umum PB HMI saat itu, Taufiq Hidayat. Di dalam GIC sendiri, terdapat masjid yang merupakan hibah dari Presiden Suharto, pemerintah pun turut membantu pembangunan GIC.

Rupanya kemesraan itu tidak menyurutkan langkah dan arah juang PB HMI untuk membela kebenaran. Ketika para mahasiswa bergerak dalam Reformasi, HMI pun turut ambil bagian.

Anas Urbaningrum. Sumber Foto: Okezone

Pada Kongres HMI 1997, terpilihlah Anas Urbaningrum yang langsung menyadari panggilan zaman pada saat itu. PB HMI terlibat aktif dalam Reformasi di bawah kepemimpinannya, bahkan cukup banyak terlibat membuat seminar dan naskah-naskah akademik hingga tulisan di media massa dan buku untuk menggagas Reformasi dalam segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bahkan, Anas Urbaningrum bersama dengan Nurcholis Madjid yang lazim dikenal sebagai Cak Nur, turut dipercaya oleh pemerintah untuk menjadi Tim Perumus KPU yang kemudian dikenal sebagai Tim 11.

Tim ini diketuai oleh Cak Nur, hingga lembaga ini jadi dan disahkan Cak Nur sendiri tidak pernah terlibat lebih lanjut di KPU. Anas Urbaningrum masih terlibat di KPU, bahkan hingga ia demisioner sebagai Ketum PB HMI ia pun masih aktif di KPU. Atas jasanya ini ia dianugerahkan Bintang Jasa Utama dari Presiden RI, 1999.

Anas Urbaningrum sendiri kemudian memasuki kancah politik praktis dengan bergabung ke Partai Demokrat pada tahun 2005, yang menurutnya adalah kendaraan untuk yang tepat untuk melaksanakan gagasannya karena Partai Demokrat memiliki ideologi nasionalis-religius. Praktis pada tahun itu pun ia mengundurkan diri dari KPU.

Kiprah Anas Urbaningrum dalam politik praktis terbilang lancar, ia berhasil menjadi anggota DPR RI pada Pemilu 2009 dengan mencalonkan diri di kota kelahirannya Blitar, Jawa Timur. Kemudian ia dipercaya menjadi Ketua Fraksi Demokrat DPR RI dan berhasil mensolidkan barisan Partai Demokrat yang saat itu diterpa isu Skandal Bank Century.

Pada Kongres ke-2 Partai Demokrat di Bandung pada 20-23 Mei 2010, Anas Urbaningrum terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat dan menjadikannya ketua umum parpol termuda pada saat itu.

Selain sebagai politisi, pria kelahiran Blitar, 15 Juli 1969 dikenal sebagai intelektual yang cakap. Ia sendiri menulis beberapa buku diantaranya Menuju Masyarakat Madani: Pilar dan Agenda Pembaruan (1997), Jangan Mati Reformasi: HMI dan Ikhtiar Sejarah Menuju Indonesia Baru (1999), Ranjau-Ranjau Reformasi: Potret Konflik Politik Pasca Kejatuhan Soeharto (1999), Pemilu Orang Biasa: Publik Bertanya Anas Menjawab (2004), Islamo-demokrasi: Pemikiran Nurcholish Madjid (2004), Melamar Demokrasi: Dinamika Pemilu Indonesia (2004), Menjemput Pemilu 2009 (2008), Takdir Demokrasi: Politik untuk Kesejahteraan Rakyat (2009),  Bukan Sekadar Presiden: Daya Gugah SBY sebagai Seorang Pemimpin (2009), Revolusi Sunyi: Mengapa Partai Demokrat dan dan SBY Menang Pemilu 2009 (2010).

Anas Urbaningrum sendiri meyakini bahwa jalan terbaik bagi terbentuknya negara Indonesia yang demokratis adalah demokrasi yang berlandaskan pada nilai-nilai kebangsaan dan juga keislaman. Ia memiliki pemikiran serupa dengan Cak Nur terkait hal ini.

Menurutnya proses Reformasi ini jangan sampai hanya pada tahap perubahan rezim, namun tidak melahirkan perubahan yang fundamental dalam kesejahteraan rakyat. Memang demokrasi baginya pasti akan melahirkan kegaduhan dan perbedaan pendapat, namun itu semua adalah dialektika biasa dalam alam demokrasi untuk menciptakan kedewasaan berpolitik.

Anas Urbaningrum. Sumber Foto: Wikipedia

Tampilnya Anas sebagai ketum parpol pemenang pemilu saat itu, membuatnya disegani bahkan oleh lawan-lawan politiknya. Bahkan usianya yang muda, membuatnya dianggap sebagai rising star dalam perpolitikan Indonesia, beberapa orang pun menjagokannya sebagai calon presiden Indonesia masa depan.

Rupanya tak disangka karier Anas tidak semulus yang diperkirakan, terkuak Skandal Wisma Atlet. Namanya diseret oleh Nazaruddin dalam kasus tersebut. Belum lagi isu perseteruannya dengan SBY, karena SBY sendiri saat Kongres Demokrat 2010 mendukung Andi Malaranggeng. Pertikaian internal ini diperparah, dengan banyaknya petinggi Demokrat yang kemudian diciduk KPK dan anjloknya elektabilitas Partai Demokrat.

Akhirnya pada tahun 2013 Anas terpaksa mengundurkan diri dan posisi ketum, dalam Kongres Luar Biasa (KLB) posisinya diambil alih oleh SBY. Anas Urbaningrum menyatakan ia mengundurkan diri agar ia dapat lebih fokus melanjutkan proses hukumnya.

Selepas dari Partai Demokrat, Anas kemudian mendirikan Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI). Banyak kader-kader Demokrat yang merupakan loyalis Anas, seperti I Gede Pasek Suardika dan Tri Dianto yang kemudian bergabung dengan PPI.

Anas kemudian divonis 14 tahun penjara, vonis ini cukup berat berbeda dengan orang-orang yang diduga terlibat skandal seperti Andi Malaranggeng mendapat vonis yang lebih ringan dan sekarang sudah bebas.

Dengan vonis berat ini tentunya bermaksud untuk mematikan karier politik Anas Urbaningrum. Saat itu banyak isu beredar yang merujuk adanya kekhawatiran apabila Anas berkuasa di Demokrat, maka Demokrat akan bernasib seperti PKB saat dipimpin Cak Imin dimana trah Gus Dur disingkirkan dan Cak Imin konflik dengan Gus Dur. Saat itu Anas merujuk adanya ‘Sengkuni’ yang hendak mengadu dombanya dengan SBY.

Bila kita lihat sendiri dari track record Anas, ia merupakan orang yang loyal pada SBY. Bahkan Anas menulis buku Bukan Sekadar Presiden: Daya Gugah SBY sebagai Seorang Pemimpin (2009), dimana dalam buku ini ia memuji SBY setinggi langit.

Dalam bukunya yang terkenal Revolusi Sunyi (2010), Anas tetap memuji SBY dan Partai Demokrat yang menurutnya dapat memenangkan Pemilu 2009, berkat apa yang disebutnya sebagai ‘Revolusi Sunyi’ yaitu parpol menang bukan lewat publikasi dan propaganda politik yang berlebihan dan gaduh, namun lewat aksi-aksi nyata dalam masyarakat. Buku ini ia perkuat dengan data-data statistik dan tabel-tabel agar terlihat meyakinkan.

Namun, membaca kedua buku ini serasa menertawakan penulis yang menulisnya, mengingat penulis dua buku tersebut tersingkir dari partai yang ia perjuangkan dan ia puji setinggi langit.

Tragedi Anas perlu diingat dan menjadi renungan bersama bagi generasi kemudian. Bahwa kejam dan kotornya perpolitikan Indonesia, dapat membuat orang yang bersih dan memiliki reputasi baik kemudian terperangkap. Juga seringkali orang-orang baik dan kompeten difitnah. Malaikat pun bisa jadi iblis kalau masuk perpolitikan di Indonesia. Cita-cita Reformasi yang dulu diperjuangkan oleh Anas sendiri belum tercapai, mungkin bisa jadi ia adalah korban dari apa yang dulu diperjuangkannya.

Masih maraknya praktek KKN, oligarki politik dan ekonomi, kesetaraan dan keadilan hukumyang belum tercapai, money politics, inefissiensi birokrasi, kemiskinan, ketimpangan pembangunan, kesenjangan sosial, isu SARA dan rawannya disintegrasi sosial masih menjadi masalah nyata yang belum mampu diselesaikan di masa Reformasi ini. Marilah berharap Reformasi dapat berjalan on track dan Indonesia dapat menjadi negara yang lebih baik kedepannya.

Kontributor : Irsyad Mohammad