Menurut KBBI daring, keraton diartikan tempat kediaman raja atau ratu alias istana raja. Bisa pula berarti sebagai kerajaan. Dapat dikatakan keraton sangat identik dengan kerajaan. Kerajaan merupakan wujud dari sistem pemerintahan monarki, sistem pemerintahan tertua di dunia. Dengan demikian keraton berkaitan erat dengan kehidupan di masa yang lalu.

Dulu kala semasa Indonesia masih berupa Nusantara, terdiri dari pelbagai kerajaan dengan daerah  kekuasaannya tersendiri. Tentunya, tiap kerajaan pasti memiliki keraton sebagai simbol pusat kekuasaan. Pada era Hindu-Buddha ada Kerajaan Majapahit dengan keraton Trowulan dan Kerajaan Sunda berpusat di Pakuan Pajajaran.

Kemudian Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten yang dianggap sebagai kelanjutan dari Kerajaan Sunda masing-masing memiliki Keraton Surosowan dan Keraton Pakungwati (kini Keraton Kasepuhan). Ataupun Keraton Bintara yang merupakan keraton pertama dari Kesultanan Demak selaku pewaris Kerajaan Majapahit.

Di luar Jawa, ada Keraton Banjar milik Kesultanan Banjar dan Keraton Kadariah milik Kesultanan Pontianak di Kalimantan. Di Sumatera, ada Istana Maimun yang merupakan keraton dari Kesultanan Deli.

Sejarah panjang kekeratonan di Nusantara bisa dibilang berakhir begitu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman bersedia menjadi daerah istimewa setingkat provinsi di dalam Republik Indonesia dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta di tahun 1950.

Pada awal dekade ketiga abad 21, tiba-tiba penduduk Republik Indonesia dikejutkan dengan kemunculan Keraton Agung Sejagat, disingkat KAS. Tepatnya pada 12 Januari 2020, Toto Santoso yang menggelari dirinya dengan Totok Santoso Hadiningrat, mendeklarasikan kerajaannya itu yang terletak di Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Purworejo, Jawa Tengah.

Tidak hanya mengangkat dirinya sebagai raja, Toto juga menunjuk seorang permaisuri, yaitu Fanni Aminadia yang bergelar Dyah Gitarja. Belakangan diketahui bahwa Fanni bukanlah istri dari Toto. Dengan klaim sendiri, jadilah sepasang bukan suami-istri ini menjadi raja dan permaisuri dari Keraton Agung Sejagat.

Dilansir dari JawaPos.com, Toto Santoso mengaku mendapat wangsit mendirikan KAS sebagai pewaris Majapahit pada tahun 2018. Ini didasarkan pada perjanjian penyerahan kekuasaan oleh Dyah Ranawijaya selaku penguasa Majapahit kepada Portugis di tahun 1518, dengan syarat Portugis harus mengembalikan kekuasaan tersebut 5 abad kemudian.

Tampak tidak main-main, Keraton Agung Sejagat memiliki bangunan yang dianggapnya sebagai istana pusat kegiatan keraton. Selain itu, KAS juga memiliki pasukan yang sepertinya siap siaga melindungi istana dari serbuan musuh. Masih dari JawaPos, disebutkan KAS memiliki pengikut sekitar 450 orang.

Tidak hanya itu, Toto mengklaim Pentagon di Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah milik KAS. Raja KAS itu juga menganggap seluruh negara di dunia berada di bawah kekuasaannya. Baginya PBB adalah parlemen, Mahkamah Internasional adalah lembaga kehakiman, dan Pentagon adalah Dewan Keamanan KAS, seperti yang dikutip dari hitekno.com.

Sayangnya, segala klaim yang hebat tidak menunjukkan kekuatan KAS yang sesungguhnya. Selang dua hari, KAS “diserang” oleh Kepolisian Republik Indonesia. Dampaknya, Totok Santoso dan Dyah Gitarja ditangkap.

Pada 15 Januari 2020 keduanya dibawa ke Semarang dan ditetapkan menjadi tersangka penipuan yang membuat KAS otomatis runtuh. Dengan demikian, riwayat KAS hanya tiga hari. Terhitung sejak berdirinya tanggal 12, dan runtuhnya tanggal 15.

Tentu saja KAS tidaklah benar-benar kerajaan yang berdaulat penuh. Untuk mendirikan kerajaan, terlebih negara, diperlukan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Dikutip dari Tribunnews, Prabukusumo yang merupakan adik dari Hamengku Buwono X Sultan Yogyakarta, menyatakan tiga syarat pembentukan kerajaan.

Pertama, harus memiliki keraton jika dipimpin oleh Sultan, Sunan, atau Adipati. Kedua, harus memiliki Kepala Suku yang mengacu pada sistem pemerintahan kesukuan di luar Pulau Jawa. Terakhir atau ketiga, yaitu trah alias keturunan.

Terlebih, untuk menjadi negara yang berdaulat syaratnya tidaklah mudah. Ada empat aspek yang harus dimiliki suatu kelompok untuk bisa dikatakan negara berdaulat. Menurut hubunganinternasional.id, keempat aspek itu, antara lain wilayah, rakyat, pemerintah, dan pengakuan dari negara lain.

Berdasarkan penjelasan di atas, KAS bukanlah suatu kerajaan resmi, apalagi negara berdaulat. KAS hanya ciptaan Toto dan Fanni yang nyatanya bukan warga Purworejo. Republik Indonesia masih sah berdiri dan berdaulat yang terdiri dari 34 provinsi, yang 2 di antaranya berstatus daerah istimewa, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jelaslah semua apabila KAS dapat dibilang suatu lelucon yang berulang di negeri ini. Disebut berulang sebab sebelumnya sempat ada Kerajaan Ubur-Ubur di Serang, Banten yang nasibnya mirip KAS, yakni bubar.