museumberjalan.id – Seperti yang sudah lazim diketahui, sejarah berkaitan erat dengan masa lalu. Suatu zaman yang lampau. Seperti kata Sartono Kartodirdjo, sejarah adalah rekonstruksi masa lampau atau kejadian yang telah terjadi pada masa lampau.

Meski terkesan kuno, informasi mengenai sejarah menjadi hal yang menarik dibahas. Serasa tidak ada habis-habisnya tatkala membicarakan sejarah. Dimensi sejarah yang memanjang dalam waktu memuat banyak hal untuk selalu diperbincangkan.

Di samping itu, ada pula kegunaan dari sejarah yang tidak sedikit. Bahkan, guna dari sejarah banyak memegang peran penting di dalam kehidupan. Makanya ada ungkapan “historia magistra vitae”, yang bisa diartikan sebagai “sejarah adalah guru kehidupan”.

Beberapa guna sejarah telah penulis ungkap di sini. Kegunaan sejarah inilah yang membuatnya begitu unik. Berkat keunikannya, banyak tokoh terkenal dunia yang membawa-bawa sejarah ke dalam ucapannya. Mulai dari sejarawan itu sendiri, filsuf, politikus, dan lain sebagainya.

Di Indonesia, ada ungkapan “Jas Merah” yang merupakan julukan bagi judul pidato Presiden Sukarno pada peringatan ulang tahun proklamasi kemerdekaan yang ke-21 di tahun 1966. Pidatonya berjudul Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah! atau Never Leave History! dalam versi English.

Ungkapan historia magistra vitae yang telah penulis cantumkan di atas pertama kali digunakan oleh Cicero dalam De Oratore yang ditulisnya pada tahun 55 SM. Cicero sendiri dikenal sebagai filsuf dan politikus Romawi kuno.

Dilihat dari dua ungkapan terkenal tersebut, sejarah berkaitan erat dengan tulisan. Sejarah mengacu kepada teks tertulis sebagai sumber kajiannya. Kita mengenal pula istilah prasejarah yang dapat diartikan sebagai periode sebelum sejarah, atau masa sebelum mengenal tulisan.

Indonesia dianggap telah memasuki masa sejarah pada abad ke 5. Buktinya merujuk pada sebuah prasasti yang ditemukan di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Dari bukti yang ditemukan, prasasti tersebut merupakan peninggalan milik Kerajaan Kutai.

Seiring berjalannya waktu, apabila ditemukan bukti lain yang meyakinkan bukan tidak mungkin dapat mengubah sejarah yang selama ini diyakini. Mengingat sifat sejarah yang dinamis, mengikuti perkembangan zaman.

Karena itulah ada lagi ungkapan terkenal yang menyoal sejarah dan tulisan, yakni “sejarah ditulis oleh para pemenang”. Ungkapan ini disebut-sebut dilontarkan pertama kali oleh Winston Churchill. Tapi, benarkah seperti itu?

Usut punya usut, kenyataannya tidak tepat. Tidak ada bukti nyata yang ditemukan Churchill pernah berujar demikian. Dilansir dari slate.com, ungkapan yang mirip tercatat pertama kali dalam bahasa Prancis di tahun 1842. Sekitar tiga puluh tahun sebelum Churchill lahir.

Bunyinya ialah “histoire est juste peut-être, mais qu’on ne l’oublie pas, elle a été écrite par les vainqueurs”. Kira-kira artinya “sejarah mungkin benar, tetapi janganlah kita lupa, itu ditulis oleh para pemenang”. Bagi yang jago berbahasa Perancis, harap koreksinya, ya!

Nyatanya bukan Churchill yang pertama kali mengungkapkan soal sejarah yang ditulis oleh para pemenang. Kalaupun ia pernah berucap demikian, ia hanya mengembangkan kalimat yang sudah ada.

Ngomong-ngomong soal sejarah yang ditulis oleh pemenang, sepertinya cukup menarik diulik. Meski sedikit. Kisah sejarah yang beredar di dunia banyak ditulis dan disebarluaskan oleh pihak penguasa. Dengan kata lain, penguasa juga merupakan pihak pemenang dalam pertarungan menuju kekuasaan.

Misalnya saja, kisah tentang Perang Dunia I & II banyak ditulis dari sudut pandang pihak yang memenangi perang. Termasuk produksi film-film yang juga terinspirasi dari cerita perang dunia.

Di Indonesia sendiri, penulis menilai pembaca yang budiman sudah jamak mengetahui alur sejarah bangsa yang beredar di buku-buku sekolah. Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas atau sederajat, perjalanan sejarah bangsa yang dipelajari cenderung searah.

Rupanya tidak hanya itu saja. Sejarah bukan hanya milik para pemenang. Para “pecundang” juga menulis sejarahnya. Bukti-bukti dan hasilnya juga tidak bisa dibilang sedikit.

Contohnya, mengenai Perang Vietnam. Dalam perang tersebut, Amerika Serikat tidak bisa dikatakan memenangkan peperangan. Akan tetapi, pihak Amerika banyak mengisahkan heroismenya mengenai perang Vietnam. Jangan lupakan juga film Rambo: First Blood Part II.

Mengacu kepada judul tulisan ini, apakah sejarah memang selalu ditulis oleh para pemenang, bisa saja menimbulkan perdebatan panjang. Meski bisa juga tidak.

Para pemenang menulis sejarah sebagai upaya penegasan kuasanya. Sedangkan para pecundang menulis sejarah untuk membela kedudukannya.

Namun, satu yang pasti dan sudah sangat jelas, sejarah hanya ditulis oleh sejarawan. Baik itu perorangan atau kelompok. Ini sudah diterangkan oleh Kuntowijoyo. “Seseorang yang menjadi penulis sejarah adalah sejarawan. Titik!”