Indonesia merupakan salah satu negara yang pernah terjajah oleh negara lain. Letak Indonesia yang strategis dan kekayaan alam Indonesia menyebabkan Indonesia menjadi negara yang layak dilirik oleh negara-negara lain untuk dieksploitasi. Rakyat pribumi pada saat itu mengalami kehidupan yang sulit dengan adanya tentara asing yang memperlakukan mereka sewenang-wenang. Kekejaman pemerintahan Belanda masih membekas hingga sekarang.

Sampai sekarang pun, pengaruh dari kolonialisme masih ada. Baik dalam unsur pemerintahan, unsur ekonomi, maupun budaya, pengaruh negara Belanda bercampur dengan Indonesia. Tidak seluruh pengaruh tersebut bersifat negatif. Ada beberapa pengaruh dari masa penjajahan Belanda yang cenderung menguntungkan bagi Indonesia.

Secara umum, masa penjajahan meninggalkan beberapa warisan yang masih dilestarikan oleh Indonesia sampai sekarang. Contohnya, pada aspek politik, struktur pemerintahan mencerminkan pemerintahan yang diterapkan Belanda. Sistem pemerintahan di Indonesia sekarang merupakan penerapan ajaran Trias Politica yang dijalankan Belanda.

Dalam bidang budaya, kolonialisme meninggalkan beberapa karya seni budaya yang bercampur dengan budaya Indonesia. Pengaruh budaya itu melingkupi tarian, nyanyian, bahasa, dan sebagainya. Dalam bidang sosial, Belanda mewariskan penyebaran agama Kristen. Penyebaran agama ini terjadi juga di sekolah-sekolah. Di bidang ekonomi, bangsa Eropa memperkenalkan mata uang dan jaringan trasnportasi. Dalam pendidikan, Indonesia mewarisi sekolah-sekolah dan sistem pendidikan.

Negara Eropa memperkenalkan beberapa sistem dalam bidang-bidang tersebut bagi rakyat Indonesia untuk diwariskan dan sistem-sistem tersebut tidak sepenuhnya buruk, bahkan cenderung menguntungkan Indonesia. Bahkan, sistem tanam paksa memperkenalkan berbagai tanaman baru dan cara bercocok tanam yang efektif bagi Indonesia meskipun sistem itu juga menghasilkan penderitaan bagi masyarakat Indonesia. Tetapi, kita juga harus memperhatikan dampak buruk yang masih ada akibat penjajahan dan sebisa mungkin mengatasinya.

Penjajahan negara Eropa pada Indonesia telah menghambat perkembangan Indonesia sebagai wilayah yang independen selama 3,5 abad. Indonesia mulai dijajah sejak pemerintahan mereka masih berbentuk kerajaan dengan jumlah yang banyak dan wilayah yang terpisah-pisah. Namun karena penjajahan itu, Indonesia secara paksa harus menyadari kekuatan dalam persatuan dan sesegera mungkin bersatu mengalahkan penjajah.

Negara Eropa menjajah Indonesia dan merebut kedaulatan yang dimiliki sejak Indonesia sendiri belum terbentuk. Dengan sistem politik Belanda yang berfungsi untuk mempermudah Belanda untuk menguasai Indonesia, Divide and Conquer atau devide et impera, rakyat Indonesia dipaksa saling membunuh saudara mereka sendiri. Persatuan yang dibutuhkan jelas sulit tercapai.

Peta Jalan Pos Anyer-Panarukan (Salah satu hasil pembangunan infrastruktur kolonial)
Sumber Foto: jelajah.kompas.id

Tertundanya perkembangan Indonesia selama 3,5 abad tidak dapat dibandingkan dengan masa kemerdekaan Indonesia yang baru berusia 74 tahun. Masyarakat Indonesia yang berkembang pesat dalam jumlah juga menambah faktor bahwa negara ini tidak dapat sepenuhnya disalahkan atas keterbelakangannya dengan negara maju lainnya. Asumsi yang mengatakan bahwa Indonesia mendapatkan akses informasi dan situasi yang sama untuk berkembang karena Indonesia adalah bekas kolonialisme negara Eropa yang besar adalah salah. Asumsi seperti itu tidak mempertimbangkan penundaan besar perkembangan masyarakat pada saat itu.

Kebiasaan dari zaman penjajahan di mana rakyat pribumi dipaksa saling bunuh dalam kesatuan militer yang dibentuk oleh penjajah juga mungkin memainkan faktor dalam aksi-aksi penyerangan sesama pribumi yang dilakukan di Indonesia. Rasisme yang ada di Indonesia masih tetap ada dan masih mempengaruhi cara rakyat kita menilai sesama pribumi. Tidak peduli seberapa besar Indonesia menetapkan dirinya sebagai negara persatuan yang penuh dengan toleransi, pada kenyataanya, rasisme tidak hilang dalam kehidupan sosial tingkat terkecil pun.

Sikap rasisme itu mungkin terwarisi dari sistem kasta yang berlangsung pada masa penjajahan itu, di mana rakyat pribumi ditempatkan paling akhir dalam tingkat sosial. Rakyat bangsa ini masih memiliki sisa-sisa pencucian otak oleh bangsa penjajah dan sisa-sisa itu mungkin akan tetap ada sampai pada waktu yang lama.

Kasta rasis yang sama, yang menempatkan pendatang ilegal dari luar sebagai kelompok masyarakat yang lebih tinggi dari masyarakat pribumi, juga menanamkan ide pada pikiran rakyat Indonesia bahwa mereka inferior dari negara Eropa. Anggapan itu tak dapat dipungkiri lagi telah berlanjut sampai jaman sekarang, di mana tidak banyak rakyat Indonesia, baik yang tua maupun muda, tidak menghargai bangsanya sendiri. Banyak yang beranggapan bahwa produk karya bangsa mereka sendiri tidak dapat bersaing dengan produk buatan orang luar negeri.

Generasi muda Indonesia lebih tertarik kepada budaya asing yang dianggap lebih baik. Rasa cinta tanah air semakin kurang di kalangan masyarakat ditandai dengan gosip yang semakin kasual mengenai kritik mereka tentang negara mereka sendiri, membandingkan Indonesia dengan negara-negara maju lainnya dan melabel Indonesia dengan sebutan “malas”. Namun, pada kenyataannya, tidak seorangpun dari mereka mencoba untuk memperbaiki keadaan itu di luar kritik semata. Ini dapat menjadi bukti lanjut bahwa ide-ide penjajah masih tertanam dalam benak setiap masyarakat Indonesia.

Jadi apa relevansi keterbelakangan Indonesia ini? Muncul anggapan di kalangan masyarakat tentang infrastruktur pada masa penjajahan Belanda yang lebih baik dari infrastruktur sekarang. Tetapi, tidak semua itu disalahkan kepada Indonesia yang “malas” membangun dan mengelola infrastruktur yang layak. Tentu, sebagian tanggung jawab kembali jatuh di tangan rakyat Indonesia untuk menjadi warga negara yang taat peraturan dan cinta tanah air untuk membangun infrastruktur tersebut.

Namun ada kemungkinan bahwa infrastruktur yang dirancang pada masa penjajahan Belanda dibuat oleh orang Belanda yang pada saat itu tidak sulit mendapatkan pendidikan. Sementara itu, pada waktu yang sama, masyarakat Indonesia tidak memiliki hak yang setara dan pendidikan bagi pribumi dibatasi. Kita harus kembali mengingat bahwa Indonesia langsung terjerumus dalam status negara mandiri ini segera setelah ada kesempatan untuk mendeklarasi kemerdekaan mereka.

Tidak ada persiapan, tidak ada masa bertumbuh perlahan-lahan bagi masyarakat itu selain beberapa tokoh terdidik yang jumlahnya cukup kecil. Negara ini yang diumpamakan seperti anak burung yang dipaksa terbang untuk pertama kalinya berkembang menjadi negara yang sekarang tentu dengan cara yang berbeda dari negara maju.

Bagaimana dengan Sumber Daya Manusia di Indonesia? Saya akan mengaitkan pertanyaan itu dengan anggapan jelek mengenai warga negara Indonesia lainnya tentang SDM kita yang masih tidak secanggih negara maju. Penjajahan Belanda menempatkan Indonesia sebagai budak orang-orang mereka saat itu.

Lagi, tanpa pendidikan yang layak, keterampilan hidup yang mereka miliki tidak berada di rata-rata teknisi dan dokter, tetapi petani. Setelah merdeka, mereka dilemparkan pada keadaan pemerintahan mandiri yang baru ini dan harus membangun negaranya sendiri. Kestabilan pemerintah pada saat itu terkesan terburu-buru. Indonesia tumbuh sebagai negara dengan mata pencaharian sederhana.

Kesimpulan dari analisis saya mengenai dampak kolonialisme di Indonesia adalah karena masa penjajahan yang dilakukan oleh Belanda, Indonesia mengalami penundaan pembangunan dalam jangka waktu yang sangat lama. Indonesia hidup selama 350 tahun sebagai budak negara asing di tanah mereka sendiri dan hidup mereka tidak berevolusi di luar pekerjaan mereka sebagai budak itu. Pendidikan dan perkembangan masyarakat – bahkan persatuannya juga – dibatasi oleh penjajah. Tak heran, Indonesia tidak berkembang seperti negara maju.

Sayangnya, rakyat Indonesia sendiri jarang ada yang meneliti secara lebih dalam mengenai dampak penjajahan yang seharusnya menjadi aspek besar dalam sejarah Indonesia. Tidak banyak sumber yang mudah ditemukan mengenai masa penjajahan selain apa yang tertera dalam buku sekolah. Itu karena, pada masa kolonialisme Belanda, bahasa Indonesia tidak diajarkan pada siapapun.

Pada saat itu, sekolah hanya berlaku untuk anak-anak Eropa dan rakyat pribumi aristokrat. Dalam arti lain, tidak banyak rakyat pribumi yang dapat menulis dan membaca. Sebagian besar tulisan sejarah dari masa itu tertulis dalam bahasa yang diajarkan di sekolah, yaitu bahasa Belanda. Sampai sekarang pun, kebanyakan pelajar mempelajari bahasa Inggris, sementara sejarah Indonesia dan sistem politiknya berbahasa Belanda.

Penelitian yang dilakukan oleh Belanda juga menutup-nutupi kekerasan yang mereka terapkan pada rakyat Indonesia. Belanda masih tidak mau mengakui bahwa mereka melakukan agresi perang setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia untuk mencoba mengambil alih kembali. Pada saat Jepang dikalahkan dan Indonesia mengalami kekosongan pemimpin, Indonesia mengambil kesempatan itu untuk memerdekakan bangsa mereka. Kejadian itu terjadi pada 17 Agustus 1945.

Namun pada tahun 1945-1949, usaha Belanda kembali merebut kebebasan Indonesia masih berlanjut. Untuk mengakui agresi yang dilakukan Belanda adalah mengakui bahwa mereka telah melakukan kejahatan perang. Kalau begitu, kapan Indonesia bisa memperbaiki perkembangan mereka?

Kontributor: Jocelyn Christy Justiawan (Siswi SMAK Tunas Bangsa Grand Cakung)