Judul Buku   : Suara Perempuan Korban Tragedi 65

Penulis         : Ita Fatia Nadia

Penerbit       : Penerbit Galangpress

Tahun Terbit : 2009

Tebal Buku   : 186 halaman

 

Saya hanya mempunyai satu keinginan sebelum saya mati. Yaitu …. bertemu keluarga almarhum jenderal-jenderal itu. Saya mau menceritakan kepada mereka, saya bukan pembunuh jenderal apalagi penyayat-yayat penis mereka…

Itu adalah sepenggal kesaksian dari Yanti, seorang perempuan belia yang baru berusia 14 tahun. Kehidupan berjalan pedih baginya. Di usia remajanya, terjadi peristiwa G-30-S PKI. Yanti yang saat itu dianggap sebagai pihak yang terlibat PKI pun tak lepas dari tindakan kekerasan dan perkosaan yang dilakukan oleh oknum militer.

Tidak hanya Yanti, ada beberapa kisah penuturan para perempuan korban tragedi 1965 lainnya. Mereka mengisahkan bagaimana penderitaan yang mereka alami pasca G-30-S PKI. Para perempuan ini mengalami penyiksaan karena terlibat dengan gerakan PKI, baik sebagai aktivis Gerwani, Buruh Tani Indonesia, atau istri aktivis PKI.

Baca Juga: Benarkah Orang Eropa Menolak dan Memberantas Pergundikan?

Peristiwa pemberontakan PKI yang terjadi pada 30 September 1965 sendiri merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa ini menandai akhir kekuasaan Soekarno dan awal pemerintahan Soeharto. Namun peristiwa ini tak luput dari kisah-kisah pembantaian terhadap orang-orang yang dianggap terlibat dalam PKI atau memiliki ideologi komunis.

Salah satu organisasi yang sering dikaitkan dengan PKI adalah Gerwani. Gerwani atau Gerakan Wanita Indonesia adalah organisasi kaum perempuan yang didirikan oleh sekelompok perempuan muda yang ingin melaksanakan cita-cita tentang revolusi Indonesia. Ketika meletus pemberontakan G-30-S PKI, para aktivis Gerwani tak luput dari incaran buron pemerintah pada saat itu.

Ada 10 bab dalam buku ini. Setiap babnya berisi satu kisah penuturan dari satu perempuan dalam bentuk narasi. Seringkali sudut pandang dan kisah dari para perempuan ini terlupakan ketika kita belajar sejarah. Yang ingin ditekankan penulis disini adalah tentang mengangkat sejarah lisan berdasarkan kesaksian langsung dari para perempuan ini.

Buku ini sangat bagus untuk dibaca bagi mereka yang ingin tahu tentang kisah sebenarnya seputar para perempuan di pusaran tragedi G-30-S PKI. Terdapat berbagai fakta baru yang terungkap, seperti bagaimana para perempuan ini mendapatkan siksaan karena keterlibatan dengan PKI, dan juga usaha-usaha mereka untuk bisa kembali hidup berbaur dalam masyarakat. Mengubah nama dan tampilan adalah salah satu usaha untuk menutupi identitas dan masa lalu mereka yang kelam.

Terlepas dari itu semua, kita berhak untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada para perempuan eks tapol pada masa itu. Buku ini hadir untuk menjawab kegelisahan kita dan sekaligus membuka mata kita terhadap fakta sejarah yang ada.