Judul                : Selalu Ada Pilihan

Pengarang       : Susilo Bambang Yudhoyono

Penerbit           : Kompas

Tebal halaman : 804

Nampaknya SBY berniat untuk memberikan sebuah nasehat panjang kepada penerusnya, begini loh negeri kita dan ini ada beberapa masalah tinggalan saya, tolong nanti diperbaiki.

Kepemimpinan Presiden Joko Widodo sedang berjalan di periode kedua. Terpilihnya Presiden Joko Widodo dalam dua kali pilpres, mengulang sukses pendahulunya yakni Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY. Sosok SBY merupakan presiden pertama yang terpilih melalui pilpres langsung, bukan melalui pemungutan suara melalui MPR sebagaimana presiden-presiden sebelumnya.

Terpilihnya SBY sebagai presiden merupakan babak baru bagi perkembangan demokrasi Indonesia. Mungkin tulisan ini dirasa terlalu berlebihan, tapi secara jujur kita harus mengakui dunia saat itu memperhatikan dengan seksama Pemilihan Presiden 2004, yang merupakan pilpres pertama dalam sejarah Indonesia. Keberhasilan Indonesia melaksanakan Pilpres 2004 hingga 2019, membuat Indonesia diakui sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan India.

Baca Juga: Pilpres 2014: Awal Polarisasi Cebong dan Kampret

Bila Mao Zedong menulis Little Red Book, maka SBY menulis sebuah Big White Book. Pada saat peluncurannya di tahun 2014, dibuatlah sebuah teaser buku ini dan dikatakan bahwa buku ini bukanlah sebuah otobiografi ataupun memoar politik. Mulanya sebagian besar dari kita pasti tidak akan mempercayainya, karena lazimnya orang yang menduduki jabatan strategis apabila membuat buku biasanya isinya adalah memoar ataupun otobiografinya.

Buku Selalu Ada Pilihan merupakan sebuah buku ideologi, politik, strategi, dan taktik (ideopolstratak). Dalam buku ini dibagi menjadi 4 bab, dengan sub-bab yang banyak sehingga pembahasan setiap babnya cukup detail.

Bab 1 buku ini mengungkap keadaan riil Indonesia saat ini, yaitu sistem ketatanegaraan Indonesia Pasca-Reformasi yang berbeda dengan Orde Baru. Ada sebuah sub-bab yang berjudul “Sekali Merdeka, Merdeka Sekali” saya kira sub-bab ini merupakan ekspresi penulis memaknai perubahan di masa Reformasi. Setelah keran kebebasan berbicara dan berpendapat dibuka, semua orang mulai banyak bersuara dan seringkali melebihi batas norma dan kewajaran, hal ini bisa dipahami karena selama bertahun-tahun kebebasan berbicara dikekang.

Di Bab 1 ini pun SBY menceritakan bagaimana perintah dari pusat tidak langsung bisa dikerjakan dengan efektif di daerah, sebagaimana di era Orde Baru dan bagaimana seorang gubernur dan bupati bisa saling berjarak satu sama lain, hal yang menurut SBY sebuah fenomena baru dari pelaksanaan otonomi daerah. Juga di bab ini banyak informasi seputar keindonesiaan, seperti krisis multidimensi bangsa seperti masalah diskriminasi minoritas, supremasi, KKN, dll.

Dilanjut Bab 2, Asalkan Tahu, Beginilah Jadi Presiden. SBY menantang membacanya, bagi yang tidak ingin menjadi Presiden atau yang tidak tertarik masalah demokrasi serta sosial politik sebaiknya tidak membaca bab ini ataupun tidak melanjutkan ke bab selanjutnya dan tutup buku ini. Gimmick SBY tentu membuat pembacanya menjadi penasaran akan isi buku ini, khususnya bab 2 ini.

Berbeda dengan bab 1, bab 2 ini isinya cukup panjang dan memiliki sub-bab lebih banyak dari bab lain. Bab ini berisi curhatan, pengalaman, apologi SBY selama ia menjadi Presiden. Bahkan terdapat sebuah kisah yang menarik tentang SBY mengalami fenomena ghaib bersama keluarganya di Cikeas. Bab ini ditulis dengan normatif, mungkin dalam beberapa sub-bab akan membuat pembaca bosan karena terdapat keluhan dan curhatan SBY yang disampaikan dengan bahasa-bahasa normatif, serta selalu diakhiri dengan ending yang moralis seperti ini: “alhamdulillah dengan bantuan Tuhan Yang Maha Esa kita telah berhasil melewati semuanya.”

Mungkin banyak orang yang bertanya-tanya kepada saya untuk apa membaca buku setebal ini? Apalagi cukup banyak isinya pembelaan diri, curhatan, mungkin beberapa orang anggap pencitraan. Banyak orang yang membaca buku ini hanya sampai Bab 2, lalu mereka pun sudah bosan. Sebagai sebuah buku idepolstratak, Bab 1 dan Bab 2 adalah refleksi kritis penulis tentang Indonesia yang ia pandang lewat perspektif ideologi dan politiknya. Bahasanya yang ringan dan normatif serta tidak banyak menggunakan istilah canggih, memungkinkan pembaca agar memahami permasalahan Indonesia kontemporer.

Pada Bab 3 Ingin Jadi Presiden Menangkan Pemilihan Mendatang, SBY berbagi strategi dan taktik, serta tips dan trik untuk memenangkan pilpres. Saya kira bagian ini merupakan hal paling menarik dari buku ini, SBY mengisahkan kepada pembaca bahwa cara untuk memenangkan kontestasi apa pun dalam alam demokrasi adalah murni si kandidatnya sendiri, sebab si kandidat adalah superstar dalam kontestasi itu.

Kelihatannya pernyataan ini cukup normatif, namun saya sendiri yang mengalami berbagai kontestasi politik selama saya menjadi aktivis paham betul maksud pernyataan ini. Seseorang bisa menang, memang murni karena kandidat itu sendiri. Ntah karena fisiknya, sikapnya ataupun kualitas intelektual pada dirinya. Bukan karena dia dibohirin taipan ini, didukung oleh Don itu, ataupun ormas ataupun golongan dan parpol tertentu. SBY mengambil kisah menarik tentang pengalamannya 2 kali memenangkan pilpres, tanpa didukung ketum Muhammadiyah ataupun NU, namun ia menang telak di basis massa kedua ormas besar tersebut.

Saya kira buku ini merupakan sebuah buku yang baru di Indonesia atau mungkin juga di dunia, belum pernah ada Presiden yang menulis buku tentang stratak sebelumnya; terutama stratak untuk memenangkan pemilu. Tidak berlebihan bila buku ini dapat disejajarkan Art of War karya Sun Tzu, buku-buku karya Clausewitz dan Sun Bin.

Bedanya dengan buku-buku strategi dan taktik politik sebelumnya, mereka lebih banyak membahas strategi untuk menghadapi peperangan dan bukan untuk kontestasi politik di alam demokrasi. Penulis membagikan strategi dan taktiknya dengan penuh kerendahan hati, dengan pernyataan: “saya berikan tips ini, silahkan bila cocok diikuti dan bila tidak cocok tidak apa, namun beginilah cara saya memenangkan pilpres.”

Bab terakhir buku ini nampaknya SBY berniat untuk memberikan sebuah nasehat panjang kepada penerusnya, begini loh negeri kita dan ini ada beberapa masalah tinggalan saya, tolong nanti diperbaiki. Dalam bab ini SBY menguraikan beberapa hal yang belum bisa sepenuhnya ia tuntaskan, namun demikian berusaha sebaik-baiknya untuk memperbaikinya selama ia menjadi presiden namun belum berhasil. Masalah-masalah itu meliputi infrastruktur yang tertinggal, supremasi hukum dan masyarakat sipil, pemerataan ekonomi, dan pemberantasan KKN. Dalam beberapa sub-bab ini SBY memberikan pengharapan kepada presiden berikutnya, juga memberikan nasehat cara mengentasi masalahnya dan meminta agar apa yang baik dari pemerintahannya untuk dilanjutkan agar legacy dari pemerintahannya tidak hilang.

Pada akhirnya setelah membaca buku ini. Kita dapat menyimpulkan bahwa buku ini adalah Il Principe versi tebal. Meski saya menganalogikan buku ini dengan Il Principe, buku Selalu Ada Pilihan, menganjurkan kita untuk meraih kekuasaan dengan cara terhormat dan berkuasa dengan cara yang demokratis. Meningkatnya indeks demokrasi Indonesia secara signifikan dibawah 2 periode kepemimpinan SBY dan tidak bapernya SBY, dengan kerbau dicoreti tulisan berinisial namanya adalah bukti nyata konsistensinya sebagai salah satu Konseptor Reformasi.

 

Kontributor: Irsyad Mohammad, S.Hum (Ketua Umum Badan Pengelola Latihan HMI Cabang Depok)