Judul Buku                  : S. K. Trimurti: Pejuang Perempuan Indonesia

Penulis                         : Ipong Jazimah

Penerbit                       : Buku Kompas

Tahun Terbit                 : 2016

Jumlah Halaman         : 248 halaman

 

S. K. Trimurti, pejuang perempuan yang lahir di Karesidenan Surakarta ini terlahir sebagai sosok yang sederhana dan pemberani, serta mengabdikan seluruh jiwa raganya untuk Indonesia. Mengangkat kisah perjuangan S. K. Trimurti, Ipong Jazimah menguraikannya sejak karier awal beliau sebagai seorang wartawan hingga masa-masa akhir hidupnya yang wafat di usia ke-96.

Membagi pembahasan menjadi sepuluh bagian, penulis mengawali cerita dengan menjabarkan kehidupan awal S. K. Trimurti yang menimba ilmu di sekolah guru. Dikisahkan secara runtut dan diakronik, alur kisahnya mengikuti rentetan peristiwa yang dialami Trimurti–sapaan akrab S. K. Trimurti.

Perempuan yang sempat mendirikan majalah Bedug pada tahun 1935 ini menerbitkan majalah berbahasa Jawa tersebut sebagai bentuk komunikasi mengenai perjuangan rakyat. Tak mampu bertahan lama, keberadaan majalah tersebut kemudian digantikan dengan diterbitkannya majalah baru berbahasa Indonesia bernama Terompet.

Baca Juga: Jugun Ianfu: Jangan Panggil Aku Miyako

Ketertarikannya pada dunia jurnalistik membuat Trimurti menjadi lebih peka dan peduli terhadap kondisi yang terjadi oleh bangsanya, Indonesia. Perempuan yang sempat tergabung ke dalam Gerwani ini cukup dekat dengan keluarga Sukarno. Berbagai pengalaman dan perjuangannya menegakkan keadilan, membawa Trimurti pada ruang yang lebih kompleks, yakni politik. Karier politiknya membawa ia menjabat sebagai pimpinan Partai Sosialis dan Partai Buruh Indonesia, hingga sebagai Menteri Perburuhan masa Kabinet Amir Sjarifoeddin.

Di luar karier politiknya, buku ini juga mengisahkan bagaimana pernikahannya dengan Sayuti Melik yang tidak direstui orang tuanya akhirnya berujung pada perceraian. Kecerdasan dan intelektualnya yang tajam, serta kepeduliannya terhadap ketidakadilan rakyat – baik sejak masa kolonialisme Belanda hingga pendudukan Jepang – membuat ia begitu vokal memperjuangkan keadilan sosial dan gender, khususnya perempuan.

Dikemas secara lebih menarik, penulis menjabarkan pula bagaimana perempuan dengan penuh keberanian ini tak mengenal kata lelah memperjuangkan keadilan hingga masa Orde Baru.