Judul buku          : Pemberontakan Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang

Pengarang          : Akira Nagazumi

Penerbit              : Yayasan Obor Indonesia

Tahun terbit         : 1988

Jumlah halaman : 140 halaman

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, menurut banyak studi berkisar pada perspektif: peristiwa dan situasi ketika dua pihak bertemu dan dari sudut sasaran militerisme Jepang. Dalam kaitan ini dapat diketahui bahwa berbagai bentuk pilihan tindakan yang diambil bisa pula membuka kemungkinan baru seperti kemungkinan Jepang membuka jalan bagi terwujudnya cita-cita yang selama ini dipupuk oleh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, pengungkapan perspektif Jepang di samping kedua perspektif tersebut penting juga untuk digunakan dalam membahas zaman pendudukan Jepang.

Buku ini memuat tulisan-tulisan yang dibuat oleh pemuda Jepang. Keempat tulisan yang dimuat dalam buku ini berusaha mendekati realitas sejarah pada tahap yang jauh lebih rendah, yaitu tahap lokal dan individual. Dua tulisan dalam buku ini dapat dianggap sebagai sejarah lokal, sedangkan dua tulisan lain dapat dipandang bercorak biografis.

Tulisan Mitsuo Nakamura tentang Jenderal Imamura memperlihatkan betapa kurang tepatnya anggapan umum yang mengatakan bahwa tentara pendudukan Jepang bersifat monolistik. Jenderal Imamura, panglima Jepang yang menerima penyerahan tanpa syarat dari Jenderal Ter Poorten di Kalijati, bukanlah seseorang yang hanya mengikuti segala garis kebijakan yang ditentukan penguasa militer, namun juga berusaha memberi wajah manusiawi dari pendudukan Jepang itu sendiri.

Akira dan Shiraishi menulis tentang pemerintahan militer Jepang di Aceh. Pendaratan Jepang di Aceh membawa harapan dalam penyelesaian terhadap masalah kolonialisme Barat. Akan tetapi, tidak berapa lama kemudian, harapan itu segera hilang di Aceh. Belum beberapa bulan Jepang menduduki Aceh, seorang ulama dengan para pengikutnya melakukan pemberontakan untuk melawan Jepang.

Namun. kelancaran roda pemerintahan hanya mungkin terlaksana apabila kesinambungan dalam kekuasaan tradisional para uleebalang dapat dijaga. Hal ini mengakibatkan kekecewaan mendalam di kalangan ulama dan ketidakpuasan di kalangan uleebalang. Oleh karena itu, ketika terjadi kekosongan kekuasaan, konflik terbuka pun pecah. Aceh kemudian mengalami revolusi sosial.

Tulisan Aiko Kurasawa dan Shiraishi membahas pemberontakan petani di Indramayu. Pemberontakan petani di Indramayu tahun 1944 menyajikan berbagai masalah penting yang dihadapi masyarakat pedesaan Jawa di bawah kekuasaan Jepang. Pemberontakan dilakukan untuk menentang pungutan padi juga sebagai pernyataan keresahan petani dalam suatu masyarakat yang sedang mengalami revolusi.

Memburuknya keadaan sosio-ekonomi secara umum, merosotnya wibawa kepemimpinan tradisional, serta munculnya kekuasaan pemerintah secara langsung di tengah-tengah masyarakat desa menjadi faktor yang berperan dalam mendorong timbulnya pemberontakan tersebut. Selain itu, ada juga beberapa faktor psikologis.

Tulisan terakhir dari Kenichi Goto membahas tentang Abdul Rachman. Abdul Rachman yang sebenarnya merupakan orang Jepang bernama Ichiki Tatsuo melepaskan kewarganegaraannya sebagai protes terhadap tanah air dan bangsanya yang tidak memenuhi janji untuk membantu dalam proses kemerdekaan Indonesia.

Kekecewaan terhadap tanah airnya yang besar membuatnya sukarela mempersembahkan jiwa raga ke angkatan perang Indonesia yang baru lahir serta memutuskan untuk mati sebagai pahlawan dan sebagai pemuda Indonesia yang berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.