Judul buku   : Massa Misterius Malari: Rusuh Politik Pertama Dalam Sejarah Orde Baru

Pengaran     : Widiarsi Agustina

Penerbit       : Tempo Publishing

Tahun terbit  : 2014

Tebal buku   : 120 halaman

 

Hari itu, tanggal 15 Januari, kerusuhan besar mengguncang Ibu Kota karena adanya demonstrasi mahasiswa serta pembakaran ratusan mobil, sepeda motor, toko, kantor, dan pabrik oleh gelombang massa.

Tragedi pada awal kekuasaan panjang Orde Baru tersebut menggambarkan kekerasan yang disponsori oleh alat-alat negara dengan melibatkan intrik antar-elit militer. Tidak sampai disitu, peristiwa tersebut juga menjadi titik penting dalam pemusatan kekuasaan Presiden Soeharto.

Peristiwa yang akrab disebut dengan Peristiwa Malari (akronim dari Malapetaka 15 Januari) itu, berawal dari unjuk rasa mahasiswa yang dilakukan pada saat terjadi kunjungan Perdana Menteri Jepang ke Jakarta yang bernama Kakuei Tanaka. Para mahasiswa memprotes aliran modal asing yang semakin besar dan menganggap hal tersebut merupakan upaya pemerasan ekonomi di Indonesia dan membunuh pengusaha lokal. Kondisi semakin diperparah ketika sekelompok orang mulai membakar dan menjarah toko-toko sebelum demonstrasi selesai. Mereka merusak pabrik Coca-Cola dan showroom mobil Toyota.

Demonstarasi sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1970-1974, yang mana pada bulan Agustus 1970, Arief Budiman mendirikan Komite Anti Korupsi. Kemudian di tahun 1971, dilakukan gerakan menolak pencoblosan pada Pemilihan Umum 1971, ditambah adanya aksi protes dari mahasiswa ketika Tien Soeharto membangun proyek mercusuar Taman Mini Indonesia Indah.

Selain itu, aksi protes juga muncul pada tahun 1973 yang menolak Rancangan Undang-Undang Perkawinan. Semangat kelompok mahasiswa semakin membara ketika melihat kejadian di Thailand yang berkaitan dengan jatuhnya kekuasaan Perdana Menteri Thannom Kittiakachorn pada bulan Oktober 1973 oleh desakan orang ramai.

Puncak dari gerakan-gerakan tersebut terjadi pada tanggal 15 Januari 1974 yang mana Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia, Hariman Siregar, turun ke jalan. Kejadian itu berawal ketika kunjungan Tanaka ke Jakarta pada tanggal 14-17 Januari. Gerakan di awali dari mahasiswa yang mengarah ke Bandara Halim Perdanakusuma (tempat Tanaka mendarat).

Di waktu yang sama, kelompok lain yang disebut Soemitro sebagai “massa Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI), tukang-tukang becak, dan preman-preman Kramat” atas perintah Opsus pimpinan Ali Moertopo justru bergerak ke arah Pasar Senen yang menyebabkan terjadinya huru-hara.

Kerusuhan kemudian melebar ke beberapa tempat, seperti Jalan Juanda, Jalan Gajah Mada, Jalan Hayam Wuruk, dan ke kawasan kota. Api berkobar sejak siang hingga malam hari yang mengakibatkan terbakarnya 144 gedung, 807 mobil, dan 187 sepeda motor, serta 11 orang tewas, 17 orang luka berat, dan 120 orang luka ringan.

Malari bukanlah rusuh terakhir dalam sejarah di Republik Indonesia. Dalam sisi kerusakan dan jumlah korban yang jatuh, memang kerusuhan di tahun 1998 jauh lebih mengerikan. Penasaran kan seperti apa kekacauan yang terjadi dalam Peristiwa Malari? Untuk lebih jelasnya segera beli dan baca buku ini ya!