Guru Bangsa: Tjokroaminoto (selanjutnya akan disebut GBT), sebuah film biopik dari Haji Oemar Said Tjokroaminoto, salah satu founding fathers bangsa Indonesia. Film yang rilis tahun 2015 ini disutradarai oleh Garin Nugroho dan diproduseri oleh beberapa produser, salah satunya adalah Christine Hakim. Tokoh Tjokroaminoto sendiri diperankan oleh Reza Rahadian.

Proyek film ini bisa dianggap sebagai sebuah proyek kolosal. Bertabur bintang film kawakan seperti Reza Rahadian, Christine Hakim, Didi Petet, Alex Komang, Sudjiwo Tedjo, Tanta Ginting, Deva Mahendra, Chelsea Islan, dan masih banyak lagi. Proyek film dengan skala yang besar melibatkan ratusan pemain, mulai dari tokoh utama sampai extras.

Film GBT bercerita secara runut kisah hidup Tjokroaminoto. Film diawali dengan adegan Tjokro sedang diintrogasi di penjara tahun 1921, lalu berganti ke masa Tjokro kecil. Tjokro kecil sudah mulai tergerak untuk membebaskan bangsanya dari Belanda, setelah melihat seorang buruh disiksa oleh mandor Belandanya.

Ketika darah sang buruh jatuh menetesi kapas yang ada di sekitarnya, di situ hati seorang Tjokro kecil tergerak. Kapas menjadi sebuah simbol yang akan terus diperlihatkan hingga akhir film.

Digambarkan pula Tjokro kecil adalah anak yang nakal dan cerdas. Pemikirannya dalam menentang kolonialisme Belanda semakin terlihat saat dia bersekolah. Satu kata kunci dalam film ini yang dikenalkan oleh guru ngaji Tjokro ialah “hijrah”, yang juga menentukan jalan cerita film.

Gejolak ingin membebaskan bangsanya dari Belanda kembali ditunjukkan saat Tjokro dewasa bekerja di pabrik karet Belanda. Melihat seorang pembantu dihukum oleh pemilik pabrik karena melakukan kesalahan, Tjokro membalasnya, yang membuat dirinya kemudian dipecat.

Perjalanan “hijrah” Tjokro sebagai dimulai dari sini. Meskipun ditentang ayah mertuanya (Sudjiwo Tedjo) dan istri Tjokro, Soeharsikin (Putri Ayudya) sedang hamil, Tjokro tetap melakukan perjalanannya. Namun, setelah tinggal di Semarang, Tjokro belum menemukan hijrahnya. Tjokro pun kembali berpindah, kali ini ke Surabaya, yang akan menjadi tempat menetap Tjokro.

Kehidupan Tjokro di Surabaya dimulai dengan bekerja sebagai juru tulis di sebuah media massa. Dari sini Tjokro mulai menulis tentang pemikirannya akan kebangsaan dan kolonialisme. Momen Tjokro melerai pertikaian antara pedagang pribumi dan Tionghoa membuat nama Tjokroaminoto semakin harum.

Sehingga suatu saat, Tjokro dipercaya menjadi ketua Sarekat Dagang Islam (SDI) Surabaya. Namun tak berapa lama, SDI tidak diakui oleh pemerintahan kolonial, Tjokro bersama H. Samanhudi mengubah nama SDI menjadi SI (Sarekat Islam).

Rumah Tjokroaminoto menjadi tempat tinggal bagi para pemuda-pemuda yang akan menjadi pemimpin besar kelak, seperti Koesno alias Soekarno, Semaoen, Moeso, dan Alimin. Pemuda-pemuda ini juga berguru dan mengikuti Tjokro ke manapun beliau pergi.

Konflik muncul ketika para pemuda menganggap Tjokro terlalu berhati-hati mengambil keputusan dan dianggap lebih mementingkan undangan dari Belanda daripada organisasinya sendiri. Beberapa pemuda, seperti Moese dan Semaoen memisahkan diri dari Tjokro. Film ini berakhir ketika Tjokro masuk penjara tahun 1921.

GBT yang merupakan film ke-11 dari Garin Nugroho, menunjukkan kelasnya sebagai sutradara yang handal dalam segala aspek. Aspek sinematografi yang indah serta bermakna beriringan dengan setiap adegan yang ditampilkan.

Scoring yang diberikan untuk setiap momen juga sangat pas, unsur budaya Jawa dan modern yang indah, membuat film ini semakin memiliki nilai artistik yang tinggi. Unsur musikal dan komedi juga sedikit diberikan untuk menyeimbangkan jalan cerita.

Reza Rahadian berakting dengan prima, bisa memberikan sedikit gambaran tentang Tjokroaminoto yang kita tidak pernah tahu seperti apa sosoknya, karena minimnya footage tentang beliau. Putri Ayudya yang di film ini merupakan penampilan perdananya di layar lebar, memberikan penampilan yang meyakinkan, walaupun masih sedikit kekurangan di aksen Jawanya.

Aktor-aktor kenamaan juga memberikan penampilan yang baik, namun ada beberapa nama yang mencuri perhatian. Tokoh Stella yang diperankan oleh Chelsea Islan cukup memberikan warna tersendiri, sebagai perwakilan dari kaum minoritas. Tokoh Cindil, penjual kursi kecil, yang diperankan oleh Gunawan Maryanto sebagai pengikut setia Tjokro yang luput dari perhatiannya, tampil secara apik dan mencuri perhatian.

Tak kalahnya juga tokoh Mbok Toen yang diperankan oleh Mbok Unit yang cerewet, memberikan nuansa komedi di film ini. Tanta Ginting tampil begitu meyakinkan sebagai tokoh Semaoen yang berapi-api.

Terdapat beberapa kekurangan di film ini, seperti beberapa alur yang tiba-tiba loncat tanpa kita ketahui sebabnya, seperti saat tiba-tiba muncul istilah CSI dan tiba-tiba muncul utusan H. Samanhudi mengajak Tjokro menjadi ketua SDI Surabaya.

Selain itu beberapa pemain extras yang kurang maksimal sehingga kurang meyakinkan di beberapa momen, seperti momen kerusuhan. Tapi tidak menampik bahwa film ini merupakan salah satu film biopik terbaik yang pernah dibuat.

Poster Film Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Sumber Foto: Wikipedia

Film dengan sutradara Garin Nugroho adalah sebuah jaminan kualitas, ditambah kehadiran aktor yang mumpuni seperti Reza Rahadian, membuat film GBT menjadi tontonan yang menarik.

Kisah sejarah yang biasanya terasa membosankan di kelas sekolah langsung sirna begitu dibawa ke layar lebar dengan tampilan yang indah, scoring yang menawan, serta performa akting yang maksimal.

Durasi 2 jam 41 menit jelas tidak cukup menggambarkan kehidupan H.O.S Tjokroaminoto secara utuh dan lengkap, tetapi nilai-nilai kebangsaan dan teladan yang diberikan beliau, cukup tergambarkan di film ini.

Kontributor: Ari Nugroho