Judul Buku: Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta Dari Masa ke Masa

Pengarang: Restu Gunawan

Tahun Terbit: 2010

Penerbit: Kompas

Tebal buku: 398 halaman

 

Banjir yang terjadi pada awal tahun 2020 di wilayah Jakarta dan sekitarnya ini bukanlah hal yang baru. Sebuah buku karya Restu Gunawan telah membahas tentang banjir yang dikatakan sudah menjadi fenomena bencana nasional.

Kondisi banjir yang terjadi di suatu wilayah itu sendiri sangat berkaitan dengan kondisi alam dan penataan kota. Kondisi alam itu meliputi geologi, iklim, curah hujan, dan geomorfologi, sementara di luar faktor alam itu meliputi kebijakan penataan kota Jakarta, termasuk pembangunan kota dan perilaku penduduknya.

Secara tofografis, Jakarta merupakan kota yang terletak di daerah dataran yang sangat rendah, bahkan di beberapa tempat ketinggian permukaan tanahnya hanya 0-7 meter dpl. Selain itu, sebagian wilayah di Jakarta lainnya berbentuk rawa-rawa sehingga tingkat sedimentasi yang tinggi di sungai-sungainya membuat air tidak dapat mengalir sesuai hukum gravitasi. Kanal-kanal yang dibangun dengan harapan dapat membantu menggelontorkan air hujan dengan cepat ke Teluk Jakarta, justru tidak dapat berfungsi secara maksimal.

Upaya pengendalian banjir yang terjadi di Jakarta sudah dilakukan sejak masa Kolonial Belanda. Dari sisi perilaku penduduknya, Pemerintah Hindia Belanda melakukan upaya menertibkan sungai dengan mengeluarkan larangan agar para wanita tidak mandi di sungai-sungai atau kanal tanpa busana.

Selain itu, dalam kaitannya dengan pengawasan air di sungai, pemerintah menetapkan aturan bahwa pengangkatan petugas pengawas dan arsitek pengairan harus sudah belajar di sekolah Burgarevonschool di Surabaya sampai tahun terakhir yang diketahui oleh komisi ujian yang menyatakan bahwa yang bersangkutan telah lulus dari sekolah tersebut.

Pengaturan lainnya ialah terkait dengan penggunaan air bagi rumah tangga, pengairan, tenaga industri, aliran air, sungai, kolam, danau, kanal, dan saluran air yang dimiliki negara. Jika terjadi perbedaan kepentingan dalam penggunaan air, maka masalah tersebut akan diajukan kepada Gubernur Jenderal.

Bencana bagi aliran sungai di Batavia (sebutan Jakarta pada masa Pemerintah Kolonial Belanda) sendiri terjadi ketika Gunung Salak meletus pada tahun 1699. Kemudian pada tahun 1701, dikirimlah ahli-ahli hidrologi untuk mengadakan penelitian di daerah hulu sungai dengan tugasnya menyelidiki sebab-sebab pencemaran yang mengalir ke seluruh kota.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa aliran sungai Ciliwung yang masuk kota semakin kecil tidak hanya karena letusan gunung, tetapi juga karena banyaknya pengalihan aliran sungai Ciliwung untuk kepentingan irigasi.

Dalam upaya memudahkan pembuatan pengaliran air, pada tahun 1776, Van Imhoof mengusulkan untuk menggali sebuah kanal di bawah Bogor yang diambil dari sungai Cisadane dan Ciliwung yang terletak di sebelah utara Bogor. Adanya pembangunan kanal seperti itu diyakini dapat mengatasi masalah banjir di Jakarta.

Akan tetapi, dapatkah Banjir Kanal Timur atau Kanal Banjir Timur (KBT) menjadi solusi pamungkas bagi persoalan banjir di Jakarta? Untuk lebih jelasnya silahkan membaca resensi buku “Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta Dari Masa ke Masa” yang akan mengupas tuntas masalah banjir Jakarta secara komprehensif.