Judul buku           : Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda

Pengarang           : Tineke Hellwig

Penerbit               : Yayasan Obor Indonesia

Tahun terbit         : 2007

Jumlah Halaman : 135 halaman

 

Buku ini membahas tentang penggambaran kaum perempuan dalam masyarakat kolonialis Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pada zaman penjajahan Belanda, perempuan diperlakukan semena-mena dan tidak diberikan haknya sebagai manusia yang sederajat dengan kaum pria. Bahkan dikarenakan kondisi ekonomi dan keterpaksaan, para perempuan ini rela menjadi gundik (budak perempuan yang tinggal di rumah tangga Eropa) bagi rumah tangga orang Belanda yang tinggal di Hindia Belanda.

Pada awal abad ke-20, masyarakat Hindia Belanda terdiri atas orang-orang pribumi yang terbagi dalam berbagai kelompok masyarakat etnis, antara lain golongan Indo, golongan Eropa, dan golongan Timur Asing (Cina, India, dan Arab). Mayoritas penduduk kulit putih terdiri dari bujangan yang memiliki sikap kurang baik seperti pemabuk, tukang gaduh, dan menghina Tuhan.

Banyak orang kulit putih yang mengadakan hubungan cinta dengan perempuan Asia yang berstatus hamba sahaya. Kompeni mendorong hubungan dan perkawinan campuran, bahkan menyediakan pengantin bagi kaum lelaki yang telah dibeli di pasaran Asia.

Baca Juga: His-Story atau Her Story? Perempuan Perkasa yang Terlupakan

Coen sangat menentang hubungan luar perkawinan yang dianggapnya merupakan suatu tindakan penyelewangan sehingga ia mendukung kaum perempuan pendatang dari Belanda. Akan tetapi, melalui SK tahun 1632, Kompeni memutuskan untuk tidak lagi mensponsori perempuan-perempuan yang datang ke Hindia dan dalam 20 tahun kemudian membatasi imigrasi perempuan seluruhnya.

Kompeni justru menempuh kebijakan memberi kepada para istri berkebangsaan Asia serta anak-anaknya kewarganegaraan suami atau ayah mereka. Akan tetapi, adanya aturan mengenai pernikahan yang harus seagama membuat para laki-laki enggan menikahi perempuan Asia. Untuk itu mereka lebih baik memilih gundik daripada mengawini perempuan yang bukan Kristen .

Dengan alasan lebih murah dan aman, Kompeni mengambil perempuan Asia untuk dijadikan gundik. Peran mereka selain mengurusi rumah tangga, juga mengurusi kebutuhan nafsu ranjang para tuannya. Mereka ini memang bukan pelacur yang memungut atas jasa yang telah diberikannya, namun mereka juga bukan istri yang sebenarnya, karena tak pernah menikah ‘secara resmi’.

Untuk informasi lebih lanjut, buku ini menarik untuk dibaca karena kondisi perempuan seperti ini jarang terekspos media. Suatu kondisi yang sangat miris yang diharapkan tidak akan terjadi lagi pada perempuan di Indonesia.