Judul buku  : Boedi Oetomo: Awal Bangkitnya Kesadaran Bangsa

Penulis       : Gamal Komandoko

Penerbit     : Media Pressindo

Tahun         : 2008

museumberjalan.id – Punika satunggaling padamelan sae serta nelakaken budi utami (ini merupakan perbuatan baik serta mencerminkan keluhuran budi). Kalimat itu berasal dari pernyataan Soetomo yang kemudian diusulkan menjadi sebuah nama organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia.

Pada hari rabu, pukul 9 pagi, tanggal 20 Mei 1908, di aula STOVIA atau Sekolah Dokter Pribumi di Batavia, sembilan anak muda yang penuh semangat bersepakat secara bulat untuk membentuk sebuah organisasi pergerakan bernama Boedi Oetomo.

Kesembilan orang itu antara lain Soetomo, Soelaeman, Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, Angka Prodjosoedirdjo, M. Soewarno, Muhammad Saleh, Soeradji, dan Goembreg.

Mereka merasa perlu melakukan pendobrakan untuk memperbaiki kondisi pendidikan pribumi yang menyedihkan demi mencapai kemajuan bagi bangsa Indonesia.

Pernyataan Soetomo dalam Bahasa Jawa itu disampaikannya kepada Wahidin Soedirohoesodo yang hendak berpamitan untuk melanjutkan kampanye studiefonds-nya ke Banten.

Ucapan Soetomo yang terakhir, budi utami, kemudian menginspirasi Soeradji untuk menamakan organisasi yang hendak mereka dirikan. Kata “budi” sendiri sangat penting maknanya bagi orang Jawa. Berasal dari kata dalam Bahasa Sanskerta, yaitu bodhi atau buddhi yang berarti keterbukaan jiwa, pikiran, kesadaran, akal, atau keadilan.

Kata tersebut juga berarti daya untuk membentuk dan menjunjung konsepsi dan ide-ide umum. Sementara kata utomo yang juga berasal dari Bahasa Sanskerta, yaitu uttama memiliki arti tingkat pertama atau sangat baik. Namun demikian, kata Boedi Oetomo sering diartikan sebagai usaha bagus atau usaha mulia.

Tujuan Boedi Oetomo seperti yang disebutkan oleh Soewarno dalam De Locomotief terbitan 24 Juli 1908 ialah “meringankan beban perjuangan hidup bangsa Jawa melalui perkembangan yang harmonis dan kerohanian, meski dengan titik tolak utama pada pendidikan, terutama pendidikan untuk kaum priyayi rendahan seperti mereka”.

Untuk jangka waktu dekat, tujuan Boedi Oetomo pada masa itu sendiri ialah untuk memberikan perhatian pertama pada unsur pribumi dalam masyarakat Jawa dengan harapan kelak di kemudian hari organisasi ini akan tumbuh menjadi perhimpunan yang lebih universal sehingga akan menciptakan persaudaraan nasional tanpa memandang suku, kelamin, maupun kepercayaan.

Dengan demikian, pada awal pembentukannya, keanggotaan Boedi Oetomo terdiri dari orang-orang Jawa.

Kelahiran Boedi Oetomo mengejutkan dan memunculkan tanggapan dari berbagai kalangan. Satu dari sekian banyak tanggapan di antaranya datang dari para guru STOVIA yang merasa risau dengan keterlibatan aktif Soetomo beserta kawan-kawannya dalam organisasi tersebut.

Hal ini disebabkan Soetomo bersama kawan-kawannya masih berstatus sebagai siswa STOVIA yang pengawasan dan didikan terhadap mereka masih menjadi tanggung jawab para guru di STOVIA.

Para guru STOVIA khawatir tindakan yang dilakukan Soetomo beserta kawan-kawannya akan tampak salah dalam pandangan pemerintah kolonial Belanda. Oleh karena itu, para guru STOVIA pernah mengancam akan mengeluarkan Soetomo dari STOVIA demi melindungi mereka dari kemarahan pemerintah kolonial.

Bagaimana kelanjutan nasib Soetomo dan rekan-rekannya untuk bertahan dan terus mengembangkan organisasi Boedi Oetomo? Kisah selengkapnya bisa kalian baca melalui buku ini.

Gamal Komandoko melalui karyanya yang berjudul “Boedi Oetomo: Awal Bangkitnya Kesadaran Bangsa”, telah merangkum secara apik dan rinci mengenai lahirnya Boedi Oetomo beserta tokoh-tokoh pendirinya.