museumberjalan.id – International Woman Day atau Hari Perempuan Internasional diperingati setiap tanggal 8 Maret. Banyak perempuan dari seluruh dunia turun ke jalan untuk menyuarakan berbagai hal yang membuat batin mereka tak tenang, mulai dari diskriminasi hanya karena terlahir sebagai perempuan, perbedaan perlakuan, upah yang tak layak, hingga berbagai macam pelecehan seksual yang sudah melampaui batas.

Semua itu seringkali dialami tak hanya oleh satu orang perempuan, namun juga perempuan lainnya. Seolah-olah lahir sebagai perempuan merupakan kutukan, perempuan selalu diajari untuk malu, menutup diri, dan tidak berkembang serta harus bergelut di urusan sumur, kasur, dan dapur saja. Semua itu merupakan hal yang membelenggu kehidupan para perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Memang nyatanya, perempuan pernah hidup dalam masa yang penuh dengan larangan, tak boleh pulang malam, tak boleh sekolah tinggi, tak boleh pakai rok mini. Urusan pakaian, pernikahan, bahkan sampai pikiran pun diatur, perempuan tak punya hak untuk bicara dan mengungkapkan pendapatnya.

Padahal sejatinya perempuan itu merupakan pilar bagi generasi yang akan datang, madrasah pertama bagi anak-anaknya kelak yang akan lahir dari rahimnya. Jika para perempuan tidak diberi kesempatan dan ruang sama sekali untuk mengembangkan diri dan belajar, bagaimana kita bisa mengharapkan akan generasi yang cemerlang dan cerdas?

Kembali ke konteks Hari Perempuan Internasional. Sejarah peringatan ini bermula ketika para buruh wanita yang bekerja di pabrik tekstil di New York merasa kecewa terhadap pembagian upah yang rendah. Mereka pun turun ke jalan, berunjuk rasa.

Namun tak hanya itu, terjadi juga unjuk rasa yang besar juga terjadi di Amerika Serikat dengan alasan yang hampir sama, dilakukan oleh para perempuan yang bekerja sebagai buruh. Aksi ini dilakukan pada tanggal 8 Maret 1909.

Gerakan ini lalu lambat laun mengilhami beberapa wilayah lainnya di Eropa. Sebuah konferensi tentang perempuan mulai diadakan, berbentuk Konferensi Internasional Perempuan Bekerja di Copenhagen, Denmark. Di sini, mulai muncul gagasan tentang hari peringatan perempuan internasional. Gagasan itu muncul dari Luise Zietz, perempuan yang berasal dari Partai Sosial Demokratis Jerman.

Mengutip tirto.id, sebenarnya ada perdebatan tentang kapan persisnya Hari Perempuan Internasional sebaiknya diperingati, antara tanggal 8 atau 19 Maret. Hal ini dikarenakan pada kedua tanggal tersebut, sama-sama terjadi unjuk rasa kaum perempuan. Pada tanggal 19 Maret 1911, ribuan orang di Eropa menuntut hak yang adil bagi perempuan. Namun di Amerika, sudah mulai diperingati setiap tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Nasional.

Pada akhirnya Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB meresmikan tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret 1977. Hari ini tetap diperingati setiap tahunnya hingga saat ini, simbol perjuangan para perempuan untuk dapat hidup atas hak dan keinginan mereka sendiri, tanpa belenggu yang mengikat kebebasan mereka.