museumberjalan.id – Setiap tanggal 29 Juni, diperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas). Tidak banyak masyarakat yang tahu memang. Bahkan, peringatan Harganas kalah jauh pamornya dibandingkan dengan hari ibu nasional pada 22 Desember, bahkan hari ayah nasional pada 12 November.

Padahal, bisa dibilang Harganas merupakan sebuah peringatan yang penting untuk menjaga keharmonisan keluarga. Begitu kalau kita tilik dari sejarahnya. Lalu pertanyaannya, mengapa Harganas diperingati setiap tanggal 29 Juni?

Menurut BKKBN, sejarah hari keluarga dapat ditelusuri pasca kemerdekaan Indonesia. Pada masa-masa revolusi (1945-1949), situasi bangsa ini belum kondusif, bahkan diberlakukan wajib militer bagi rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan.

Setelah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah, pada 22 Juni 1949 Belanda menyerahkan kedaulatan Indonesia secara utuh. Tepat seminggu setelahnya, pada 29 Juni 1949, para pejuang kembali ke keluarga. Seperti yang dapat pembaca tebak, hal tersebutlah yang melandasi lahirnya Harganas.

Potret Keluarga Presiden Soekarno, Sumber Foto: Detik

Kemudian, puncak kristalisasi hari keluarga tercatat pada masa orde baru, tepatnya pada 29 Juni 1970. Pada tanggal itu, dikutip dari Tirto, Presiden Soeharto meresmikan lembaga pemerintah non departemen dengan meningkatkan Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) menjadi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada 1970, berdasarkan Keputusan Presiden No. 8 Tahun 1970.

Selama kurun waktu sekitar dua puluh tahun, telah banyak keberhasilan program Keluarga Berencana (KB). Program kependudukan dan KB bahkan meraih penghargaan UN Population Award. Selanjutnya, Presiden Soeharto pada 29 Juni 1992 menetapkan tanggal 29 Juni sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas).

Penetapan ini dilatarbelakangi upaya pemerintah memberikan penghargaan kepada masyarakat Indonesia yang telah berjuang dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan meninggalkan keluarganya. Harganas juga dimaksudkan untuk mengingatkan rakyat Indonesia akan pentingnya keluarga sebagai bentuk sumber kekuatan untuk membangun bangsa dan negara.

Ilustrasi Keluarga Berencana, Sumber Foto: Tribunnews

Hari keluarga tersebut diinisiatori oleh Haryono Suyono, yang merupakan Ketua BKKBN saat era Presiden Soeharto. Menurut BKKBN, Haryono menyampaikan tiga pokok pikiran mengenai hari keluarga.

Pertama, mewarisi semangat kepahlawanan dan perjuangan bangsa. Kedua, tetap menghargai dan perlunya keluarga bagi kesejahteraan bangsa. Ketiga,  membangun keluarga menjadi keluarga yang bekerja keras dan mampu berbenah diri menuju keluarga sejahtera.

Kemudian, Presiden Soeharto menyetujui gagasan tersebut yang melahirkan peringatan Harganas setiap 29 Juni. Adapun landasan sejarah pemilihan tanggal dan bulan tersebut karena pada waktu tersebut, Tentara Republik Indonesia (TRI) yang bergerilya dalam perjuangan melawan penjajah, masuk ke Yogyakarta, dan kembali ke keluarga masing-masing.

Pada akhirnya, Harganas mendapatkan legalitas pada tahun 2014. Melalui Keputusan Presiden RI Nomor 39 Tahun 2014, tanggal 29 Juni ditetapkan sebagai Hari Keluarga Nasional dan bukan hari libur.

Dikutip dari Kantor Berita Antara, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) saat itu, Agung Laksono, mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia agar menjadikan momentum Harganas untuk menyukseskan program KB, agar kesejahteraan penduduk Indonesia dapat tercapai pada 2045.