Selamat Hari Guru Nasional!

Revolusi yang terjadi di Indonesia telah merubah tatanan kehidupan bangsa termasuk dalam bidang pendidikan. Pada masa itu, pendidikan bertujuan untuk mendidik warga negara yang sejati, bersedia menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk negara dan masyarakatnya. Oleh sebab itu, pada masa awal kemerdekaan, pendidikan di Indonesia lebih menekankan pada bagaimana menanamkan rasa nasionalisme dan berjiwa patriotisme untuk mempertahankan kemerdekaan.

Terjadinya Proklamasi kemerdekaan Indonesia juga turut mendorong perjuangan para guru untuk mempertahankan kemerdekaan dengan cara mendidik bangsanya agar menjadi manusia yang cerdas dan berpengetahuan sehingga tidak dapat dijajah lagi oleh bangsa asing. Pada masa Revolusi yang tengah bergejolak, guru-guru tidak ingin tertinggal untuk ikut membantu para tentara, masyarakat, dan pejuang lainnya untuk melawan penjajahan kolonial Belanda.

Keinginan para guru di Indonesia agar bangsanya yang telah merdeka tidak dijajah kembali, ditunjukkan dengan upaya mereka yang tidak hanya terlibat dalam bentuk kegiatan langsung di masyarakat, tetapi melalui perannya sebagai pendidik, mereka terus memberikan kesadaran akan semangat perjuangan kepada para anak didiknya. Perjuangan guru-guru di Indonesia yang demikian terwadahi dalam oraganisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Lantas kapan PGRI itu sendiri lahir?

Bedasarkan jurnal berjudul “Perjuangan Organisasi Guru di Masa Revolusi Sejarah PGRI di Awal Pendiriannya” karya Ahmad Kosasih yang dimuat dalam jurnal SOSIO-E-KONS Vol. 8 tahun 2016, dijelaskan bahwa sejarah perjuangan kaum guru telah dimulai sejak masa pemerintahan kolonial Belanda dengan dibentuknya oraganisasi Persatuan Guru Hindia Belanda pada tahun 1912. Organisasi tersebut kemudian berganti nama menjadi Persatuan Guru Indonesia pada tahun 1932.

Sejarah mencatat dalam situasi perjuangan melawan Sekutu, dilangsungkan Kongres Pendidik Bangsa yang berlangsung tepat 100 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kongres tersebut dilaksanakan di Sekolah Guru Puteri (SGP) di Surakarta, Jawa Tengah yang digerakkan dan dipimpin oleh para tokoh pendidik guru, seperti Amin Singgih, Rh. Koesnan dan kawan-kawan. Kongres selama dua hari dari tanggal 24-25 November 1945 tersebut melahirkan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Sejak saat itu PGRI lahir sebagai wadah perjuangan kaum guru untuk turut serta menegakkan dan mempertahankan serta mengisi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka. Nama PGRI sendiri diberikan oleh utusan dari Jawa Barat yang berjiwa unitaristis yang saat itu bergabung dalam Persatuan Guru Seluruh Priangan (PGSP).

Kongres pertama PGRI turut membantu membangkitkan semangat para guru. Hal itu sejalan dengan tujuan awal PGRI ketika didirikan, yaitu memperkuat berdirinya Republik Indonesia. Perjuangan PGRI bukan saja dilakukan melalui bangku sekolah, tetapi para guru juga turut mengangkat senjata melawan Sekutu.

Ketika Sekutu datang dengan memboncengi NICA, bukan hanya tentara dan rakyat yang berjuang, para guru pun rela meninggalkan tugasnya untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan yang telah mereka dapatkan. Oleh sebab itu, tidak jarang para guru juga turut menjadi anggota TKR. Para guru perempuan pun banyak yang bertugas di dapur umum atau menjadi anggota Palang Merah Indonesia (PMI). Bahkan tidak sedikit dari mereka yang gugur sebagai pahlawan bangsa.

Perjuangan guru yang diwadahi oleh PGRI dalam masa kemerdekaan telah banyak berjasa bagi bangsa Indonesia. Bukan hanya mendidik dalam rangka mencerdaskan bangsa, tetapi ikut pula dalam perjuangan fisik melawan Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia dengan membonceng Sekutu.

Peran yang diambil oleh guru-guru Indonesia pada masa kemerdekaan telah banyak memberikan sumbangsih bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, dalam momentum menyambut hari guru nasional yang diperingati pada tanggal 25 November, sudah sepatutnya kita ucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pahlawan tanpa tanda jasa yang rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk mendidik mencerdaskan anak bangsa.