museumberjalan.id – Presiden Joko Widodo mengumumkan akan memindahkan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan Timur yang telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 seperti dilansir dari kompas.com.

Dalam sejarahnya, sebelumnya Indonesia juga sempat berpindah ibu kota ke Yogyakarta dan Bukittinggi pada masa revolusi (1946-1949). Ketika itu Kota Jakarta, yang ditetapkan sebagai ibu kota negara pada saat proklamasi kemerdekaan, dalam situasi genting karena perang. Barulah di tahun 1950 Jakarta kembali berkedudukan sebagai ibu kota.

Berbicara soal Jakarta, ibu kota saat ini, pusat bisnis dan budaya di Indonesia, serta tempat sekitar 25 juta orang mencari nafkah, sudah terkenal sebagai kawasan yang ramai sejak dulu kala. Bahkan, Jakarta sudah beberapa kali berganti nama.

Kota yang pada 22 Juni 2020 ini tepat berusia 493 tahun memang sudah berjaya melebihi umur usianya. Pada masa Kerajaan Sunda, yang bercorak Hindu-Buddha, berkuasa, wilayah ini bernama Sunda Kelapa. Kota pelabuhan ini berlokasi di muara Sungai Ciliwung.

Ketika memasuki abad 16, kekuasaan Kerajaan Sunda mulai melemah. Di sisi lain, Cirebon tumbuh sebagai basis Islam di Jawa bagian barat. Untuk menangkal pengaruh Cirebon, Kerajaan Sunda menjalin persahabatan dengan Portugis yang berkedudukan di Malaka. Dalam kesepakatan tersebut, perwakilan Portugis dipimpin oleh Enrique Leme, dan Kerajaan Sunda di bawah kendali Prabu Surawisesa.

Bukti dari perjanjian tersebut adalah Prasasti atau Padrão Sunda Kelapa bertanggal 21 Agustus 1522. Menanggapi tindakan Kerajaan Sunda, Kesultanan Demak beserta Cirebon yang dipimpin oleh Fatahillah menyerbu Sunda Kelapa. Takluknya Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527 ditandai dengan penggantian namanya menjadi Jayakarta.

Menurut laman resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, nama Jayakarta diilhami Al Qur’an, Surat Al Fath ayat 1, berbunyi Inna fatahna laka fathan mubinan, artinya “Sesungguhnya Kami telah memberi kemenangan padamu, kemenangan yang tegas”. Kemenangan yang tegas dan sempurna itu kemudian dialih bahasakan menjadi “Jayakarta”.

Kota Jayakarta terbentang dari utara ke selatan dengan diapit sungai-sungai, seperti Ciliwung. Pusat kota ditandai dengan alun-alun, di sebelah selatannya terdapat keraton (dalem), di sebelah baratnya terdapat masjid, dan di sebelah utara adalah pasar. Tata kota dengan sistem penempatan bangunan seperti kota Jayakarta itu pada dasarnya tidak berbeda dengan tata kota lainnya di pesisir utara Jawa.

Sumber Foto : vocsite.nl

Para pedagang Eropa yang singgah menyebut kota ini dengan nama ‘Jacatra’. Sampai tahun 1619 orang Belanda masih menyebut dengan nama itu. Keadaan berbalik pada 30 Mei 1619 ketika VOC yang dipimpin Jan Pieterszoon Coen berhasil menguasai kota pelabuhan ini setelah empat belas hari berperang.

Baca Juga: Bagaimana Pandangan Warga Jakarta Mengenai Banjir?

Sejak saat itu, Jayakarta runtuh. VOC kembali membangun kota yang baru di atas reruntuhan Jayakarta. Awalnya Coen memilih nama Nieuw Hoorn, akan tetapi pemerintah negeri Belanda memilih nama Batavia yang diresmikan penggunaannya pada 18 Januari 1621, seperti dikutip dari situs vocsite.nl

Menurut laman Indonesia.go.id, nama Batavia berasal dari nama etnis Jermanik yang bermukim di tepi Sungai Rhein, dan dianggap sebagai asal-usul bangsa Belanda, yaitu ‘Bataf’. Bangsa Belanda sangat mengagungkan nenek moyangnya sehingga dirasa perlu mengabadikan nama Batavia di negeri jajahannya.

Seiring perkembangan waktu, kata Batavia acap kali dilafalkan sebagai Betawi oleh banyak orang-orang dari kalangan Bumiputra. Batavia atau Betawi merupakan nama yang paling lama digunakan dalam lintasan sejarahnya.

Penggunaan nama Batavia berakhir begitu pemerintahan militer Jepang yang menduduki kota menggantinya dengan nama Djakarta, kependekan dari Djajakarta. Menurut Lasmijah Hardi dalam Jakartaku, Jakartamu, Jakarta Kita (1987), pergantian nama itu bertepatan dengan perayaan Hari Perang Asia Timur Raya pada 8 Desember 1942. Nama lengkapnya ialah Djakarta Tokubetsu Shi.

Hikayat Nama Jakarta
Sumber Foto : Wikipedia

Baca Juga: Bagaimana Kisah Penamaan Makanan Ketoprak di Jakarta?

Setelah proklamasi 1945, pemerintah Indonesia yang baru terbentuk menetapkan Djakarta sebagai ibu kota negara. Nama Djakarta masih terus digunakan pada masa-masa berikutnya. Perubahan kecil terjadi pada tahun 1972, saat Ejaan Yang Disempurnakan diberlakukan menggantikan Ejaan Suwandi dalam berbahasa Indonesia, sehingga Djakarta berubah menjadi Jakarta.

Terhitung sejak masa Sunda Kelapa, nama kota pelabuhan ini telah berganti nama sebanyak tiga kali. Urutannya adalah Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia/Betawi, dan Jakarta.