Belum lama ini warganet Indonesia dihebohkan dengan sebuah cerita tentang pergundikan yang terjadi di salah satu maskapai penerbangan ternama Indonesia. Direktur utama tersebut digadang-gadang memiliki wanita simpanan yang disebut-sebut oleh warganet sebagai gundik. Istilah gundik merujuk pada konotasi yang negatif baik bagi masyarakat Indonesia maupun oleh penjajah yang saat itu mayoritas orang Eropa.

Tapi, tahu gak sih kalau pergundikan sempat ditolak dan diberantas oleh orang Eropa sendiri?

Nyai, sebutan khas yang sudah hadir sejak era kolonial ini merupakan panggilan bagi mereka––para perempuan pribumi––yang menjadi korban seksual para penjajah berkulit putih di Hindia Belanda. Kata ‘Nyai’ itu sendiri berasal dari berbagai bahasa, seperti Sunda, Jawa, dan Bali yang bermakna perempuan. Ada yang menggunakan istilah ‘Nyai’ untuk panggilan perempuan yang usianya lebih muda, tetapi sebutan ‘Nyai’ ini tidak sedikit yang mengenal sebagai panggilan bagi seorang gundik.

Di bawah bayang-bayang ketidaktentuan status yang diperoleh seorang gundik yang sifatnya hanya sebagai “simpanan”, hal ini justru menambah penderitaan yang dialami oleh para perempuan pribumi saat itu.

Bermula dari dibentuknya Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) di Batavia, para pegawai VOC datang ke Hindia Belanda tanpa membawa keluarga. Tidak sedikit mereka para pegawai VOC yang menaruh perhatian terhadap perempuan pribumi untuk dijadikan gundik atas dasar kebutuhan seksualnya. Para perempuan yang dijadikan gundik saat itu harus mampu berbahasa Belanda. Hal ini diperlukan untuk memudahkan para tuannya berkomunikasi. Tidak hanya itu, sebagai simpanan tuan Belanda, seorang gundik harus menyesuaikan dan mengimbangi penampilan tuannya.

Menariknya, pergundikan yang menjadi hal biasa di era kolonial tersebut rupanya sempat mendapat tentangan dan penolakan oleh orang Eropa sendiri.

Lantas, siapakah orang Eropa yang justru menentang praktik pergundikan?

Petinggi VOC yang berhasil menduduki Batavia ini rupanya sempat tidak setuju dengan adanya praktik pergundikan saat itu. Ia beranggapan bahwa pergundikan yang berkembang justru memicu timbulnya kasus baru. Mengacu pada jurnal berjudul “Keberadaan Nyai di Batavia 1870–1928” karya Hayu Adi Darmarastri, pergundikan di Batavia menimbulkan upaya pembunuhan terhadap tuan-tuan Eropa yang diracuni oleh gundik yang cemburu, digugurkannya kandungan, hingga pembunuhan terhadap bayi yang dikandung para perempuan pribumi.

Atas dasar inilah Coen mengeluarkan suatu kebijakan dalam Regering bij Plakaat pada tahun 1625 terkait larangan menikahi para perempuan pribumi. Namun, upaya tersebut tidak lantas menghilangkan pergundikan di Hindia Belanda. Praktik pergundikan masih terus berjalan meski kebijakan tersebut telah dikeluarkan.