museumberjalan.id – Setelah berhasil merebut kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 dari para penjajah, bangsa Indonesia belum sepenuhnya merasakan kebebasan. Pada awal kemerdekaan, bangsa Indonesia harus menghadapi kekuatan asing yang tidak menghendaki kemerdekaan Indonesia. Kedatangan pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ke Indonesia yang diboncengi oleh Sekutu membuat sikap rakyat Indonesia menjadi lebih waspada.

Pasukan NICA yang ingin kembali menguasai wilayah Indonesia memancing kerusuhan dengan melakukan provokasi di berbagai wilayah. Bangsa Indonesia tidak tinggal diam. Dengan berbagai upaya, bangsa Indonesia tetap mempertahankan kemerdekaan dengan bangkit melawan Sekutu dan pasukan NICA. Akibatnya berkobarlah pertempuran di beberapa daerah, salah satunya di Ambarawa.

Pertempuran Ambarawa berawal ketika pasukan Sekutu menjelaskan maksud kedatangannya itu kepada Gubernur Jawa Tengah, Mr. Wongsonegoro, dan atas persetujuannya mereka kemudian bergerak ke selatan menuju Magelang melewati Ambarawa.

Baca Juga: Mengapa Terjadi Pertempuran Margarana?

Dalam gerakannya itu, ternyata tentara Sekutu memakai pasukan depan yang terkenal, yaitu “Kido Butai” (Barisan Berani Mati) atau pasukan istimewa yang bermarkas di daerah Candi dan Srondol (Tjokropranolo, 1992: 53). Selain itu, pasukan NICA yang membonceng di belakang tentara Sekutu dan bertindak sebagai penunjuk jalan melakukan tindakan provokatif sehingga terjadi beberapa pertempuran sengit di sekitar wilayah tersebut.

Strategisnya letak Ambarawa memunculkan kesadaran di pihak Republik apabila Ambarawa diduduki oleh pasukan Sekutu maka dapat membahayakan pertahanan seluruh Jawa Tengah. Oleh sebab itu, Jenderal Soedirman sebagai pemimpin pasukan menegaskan perlunya mengusir tentara Sekutu dari Ambarawa secepat mungkin.

Dengan semboyan “Rawe-rawe rantas malang-malang putung, patah tumbuh hilang berganti”, pasukan TKR memiliki tekad bulat membebaskan Ambarawa atau dengan pilihan lain gugur di pangkuan ibu pertiwi. Jenderal Soedirman langsung terjun ke medan pertempuran untuk memeriksa situasi di tempat guna menyusun siasat.

Dalam upaya mematahkan pertahanan Sekutu di Ambarawa, laskar-laskar perjuangan, tentara pelajar, dan barisan-barisan perjuangan lainnya menyatakan sepakat untuk berjuang di bawah pimpinan Jenderal Soedirman. Serangan pembebasan Ambarawa yang berlangsung pada tanggal 12–15 Desember 1945 dilancarkan dengan penuh semangat tanpa pantang mundur. Para pejuang terus melakukan serangan tanpa menghiraukan lawan maupun desingan peluru.

Segala persiapan sejak pagi hingga malam terus dilakukan, dan orang-orang yang keluar masuk Kota Ambarawa diawasi dengan ketat. Melalui siasat “Supit Udang”, pertempuran dimulai dengan diawali letusan tembakan tepat pukul 04.30 WIB pada tanggal 12 Desember 1945. Pejuang yang telah bersiap-siap segera mendekati sasaran yang telah ditentukan dengan siasat penyerangan mendadak secara serempak di segala sektor.

Serangan dadakan tersebut diikuti serangan balasan dari musuh. Namun, sekitar pukul 16.00 WIB, TKR (Tentara Keamanan Rakyat) berhasil menguasai Jalan Raya Ambarawa-Semarang, dan pengepungan musuh di dalam Kota Ambarawa berjalan dengan sempurna. Pada hari terakhir tanggal 15 Desember 1945, melalui siasat “Supit Udang” pasukan TKR dan laskar rakyat berhasil membuat tentara Sekutu kesulitan untuk meloloskan diri menuju ke arah Semarang.

Baca Juga: Apa Isi Perjanjian Bongaya?

Tentara Sekutu terus dihadang dan tetap dikejar oleh para pejuang dalam perjalanannya keluar Kota Ambarawa.  Akhirnya, tentara Sekutu mundur pada tanggal 15 Desember 1945, dan berakhir dengan kemenangan gemilang dari pihak TKR. Pasukan TKR juga berhasil merebut benteng pertahanan Sekutu yang tangguh.

Demikianlah Soedirman dengan pasukan-pasukannya dapat mengusir Sekutu dari kota Ambarawa. Kemenangan tersebut merupakan sukses besar bagi RI karena baru pertama kali TKR dapat mengusir Sekutu dari kota yang telah didudukinya (Dr. A. H. Nasution, 1966: 73).

Palagan Ambarawa menjadi bukti bahwa sebuah taktik pertempuran yang teratur telah berhasil diterapkan oleh pemimpin yang terampil, yakni Jenderal Soedirman. Kemenangan yang diperoleh dalam mengusir tentara Sekutu menimbulkan kepercayaan dalam diri masyarakat untuk terus berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.