musuemberjalan.id – Peristiwa Rengasdengklok yang terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 merupakan bagian tak terpisahkan dari rangkaian proses menuju proklamasi kemerdekaan Indonesia. Peristiwa tersebut dipicu oleh adanya perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda terhadap berita menyerahnya Jepang kepada Sekutu tanggal 15 Agustus 1945.

Golongan tua yang bersikeras menunggu pihak Jepang untuk menepati “Janji Koiso” perihal memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia membuat golongan muda geram. Hal itu disebabkan golongan muda ingin Proklamasi Kemerdekaan dilakukan secepatnya dan menolak jika Proklamasi Kemerdekaan dilakukan oleh PPKI sebagai badan bentukan Jepang.

Baca Juga: Menuju Gerbang Kemerdekaan Untuk Negriku

Dalam buku Rengasdengklok: Resolusi dan Peristiwa 16 Agustus 1945, Sjahrir menyatakan jika pernyataan kemerdekaan dilakukan oleh PPKI, akan menyebabkan Sekutu mencap Indonesia buatan Jepang. Perdebatan tersebut mendorong golongan muda mengambil tindakan. Pada dini hari sekitar pukul 03.00, golongan muda menjemput paksa Soekarno (beserta istri dan bayinya) serta Muhammad Hatta ke Rengasdengklok.

Perjalanan ke Rengasdengklok dengan pengawalan tentara PETA dilakukan sesudah makan sahur, sebab waktu itu memang bulan puasa (St. Sularto dan D. Dini Yunarti, 2010: 54).  Rengasdengklok yang terletak di sebelah utara Karawang dipilih untuk mengamankan Soekarno-Hatta dari pengaruh Jepang sebab lokasinya dianggap daerah aman yang dikuasai oleh PETA.

Menurut Maeda, kasus ini bukan sekedar kasus penculikan sederhana, tetapi berhubungan dengan konspirasi menciptakan kerusuhan untuk kelangsungan kemerdekaan Indonesia. Sejumlah 6.000 pemuda dan mahasiswa yang terdiri atas pasukan PETA dan anggota partai progresif siap melakukan kerusuhan di malam hari untuk kemudian menguasai seluruh transportasi, peralatan komunikasi, ditambah mendirikan pemerintahan sendiri, serta mengumumkan kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia.

Baca Juga: Serangan Umum 1 Maret: Salah Satu Upaya Mengusir Belanda

Setelah penculikan itu, dipihak lain Ahmad Soebardjo kebingungan mencari keberadaan Bung Karno dan Bung Hatta yang tidak berada di kediamannya. Padahal Soebardjo ingin menemui mereka perihal rencana penyelenggaraan rapat PPKI pada tanggal 16 Agustus 1945 yang dimulai pukul 10.00.

Ketika melakukan pertemuan dengan pemuda pada pukul 08.00, maka diambil kesimpulan bahwa Soebardjo akan menjemput Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Soebardjo memberikan jaminan kepada pemuda bahwa Proklamasi akan diselenggarakan di Jakarta.

Setibanya di Rengasdengklok pada hari Kamis, 16 Agutus 1945 pukul 16.00, Subardjo ditemani oleh Sukarni, Soebeno, dan Sutardjo Kartohadikoesoemo melakukan rapat dengan Bung Karno dan Bung Hatta. Dari rapat tersebut disepakati bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00.

Sekitar pukul 20.00, Subardjo dan rombongan kembali ke Jakartadan langsung menelepon Hotel des Indes untuk menyiapkan rapat PPKI yang mestinya dilakukan pada pagi harinya. Akan tetapi, karena mendapat penolakan dari pihak hotel yang menyatakan bahwa setelah pukul 22.00 tidak diperbolehkan menyelenggarakan kegiatan apapun, maka Subardjo menghubungi Maeda untuk meminjam rumahnya sebagai tempat melangsungkan rapat PPKI.

Maeda pun menerima permintaan tersebut dengan senang hati. Mulai dari sinilah langkah para pendiri bangsa untuk mewujudkan kemerdekaan semakin dekat dan Peristiwa Rengasdengklok menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses rangkaiannya.