museumberjalan.id – Tanggal 28 Agustus 2013, terjadi sebuah insiden ketika pertandingan sepak bola antarklub di Indonesia berlangsung. Roy Suryo yang menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga pada saat itu berusaha meredam pertikaian antarsuporter sepak bola dengan mengajak mereka untuk bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Akan tetapi, Roy Suryo justru salah mengucapkan lirik ketika sedang menyanyikan lagu kebangsaan tersebut. Kejadian ini menunjukkan bahwa masih terdapat masyarakat Indonesia, bahkan seorang pejabat yang tidak hafal dalam menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaannya sendiri.

Bahkan masih banyak masyarakat Indonesia saat ini yang belum mengetahui bahwa lagu Indonesia Raya yang mereka nyanyikan hingga sekarang bukan merupakan lagu versi asli seperti yang pertama kali diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman, melainkan sudah melalui proses penyempurnaan.

Lagu Indonesia Raya sendiri merupakan karya terbesar yang diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman sepanjang perjalanannya menjadi seorang komponis. Ketertarikan menciptakan lagu perjuangan berawal dari semakin tumbuhnya kesadaran politik dan rasa kebangsaan dalam diri Wage Rudolf Supratman.

Kesadaran politik dan rasa kebangsaannya semakin terangsang ketika beberapa koran yang terbit di Batavia (Jakarta) memberitakan bahwa para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negeri Belanda mengubah nama organisasi Indonesische Vereniging menjadi Perhimpunan Indonesia, mengganti nama majalah organisasi Hindia Putra menjadi “Indonesia Merdeka”.

Organisasi tersebut menyatakan bahwa tujuan perjuangan mereka adalah memerdekakan Indonesia (de vrijmaking van Indonesie) yang sama artinya dengan mencapai kemerdekaan Indonesia.

Terciptanya lagu Indonesia Raya berawal ketika Wage Rudolf Supratman membaca sebuah tulisan di majalah Timbul terbitan Kota Solo yang isinya adalah “Alangkah baiknya kalau salah seorang dari pemuda Indonesia yang bisa menciptakan lagu kebangsaan, sebab lain-lain bangsa semua telah memiliki lagu kebangsaannya masing-masing!.”

Sejak saat itu Wage Rudolf Supratman bertekad untuk menciptakan lagu yang nantinya dapat menjadi lagu kebangsaan Indonesia hingga terciptalah lagu Indonesia Raya. Lagu Indonesia Raya (diciptakan tahun 1924) pertama kali dimainkan pada Kongres Pemuda (Sumpah Pemuda) tanggal 28 Oktober 1928 (Redaksi Great Publisher, 2009: 19).

Menurut pendapat Almarhum Prof. Mr. Moh. Yamin, orang yang aktif dalam penggalangan sumpah pemuda tersebut, maka Kongres Pemuda Indonesia 1928 itu telah berhasil merumuskan sumpah yang tiga itu dan menetapkan ketiga lambang kedaulatan Indonesia (lambang merah putih, lagu kebangsaan, lencana garuda elang rajawali) dan menelurkan alat piranti kesatuan dan persatuan (C.S.T Kansil dan Drs. Julianto, 1985: 40).

Dalam perkembangannya, lagu Indonesia Raya ternyata dianggap memiliki nilai luhur. Semula lagu ini diperkirakan hanya akan menjadi lagu pergerakan atau lagu perjuangan saja (Anthony C. Hutabarat, 2001: 24). Akan tetapi, lagu tersebut ternyata mempunyai mutu kebangsaan dalam perjalanan sejarah pergerakan bangsa Indonesia sehingga lagu Indonesia Raya diangkat menjadi lagu kebangsaan Indonesia.

Dalam salah satu keputusan Kongres Kedua PNI diumumkan bahwa lagu Indonesia Raya diakui sebagai lagu kebangsaan Indonesia. Pengakuan lagu Indonesia Raya menjadi lagu kebangsaan Indonesia oleh PNI luar biasa pengaruhnya karena dalam waktu singkat berbagai organisasi dan masyarakat umum dari berbagai golongan mengikuti jejak PNI dan sejak tanggal 20 Mei 1929 lagu Indonesia Raya berkumandang di seluruh penjuru Nusantara.

Pengakuan Lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan Indonesia oleh berbagai organisasi dan masyarakat Indonesia menimbulkan reaksi dari Pemerintah Hindia Belanda. Ketika masyarakat menghendaki untuk dapat memperoleh notasi dan teks lengkap lagu Indonesia Raya, Pemerintah Hindia Belanda justru mengeluarkan larangan atas peredaran lagu tersebut pada tahun 1930.

Hal ini disebabkan karena Pemerintah Hindia Belanda merasa cemas melihat perkembangan lagu Indonesia Raya sehingga Gubernur Jenderal Jhr. De Graeff memanggil para pembantu ahlinya untuk secara khusus membicarakan soal lagu Indonesia Raya yang dalam perkembangannya dinilai semakin membahayakan kewibawaan kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda.

Lain halnya pada awal kedatangan Jepang tahun 1942, lagu Indonesia Raya senantiasa dikumandangkan untuk menarik hati rakyat Indonesia dan meyakinkan bahwa bangsa Jepang adalah “saudara tua” bangsa Indonesia yang hendak membebaskannya dari belenggu penjajahan.

Meskipun pada bulan Maret 1942 lagu Indonesia Raya kemudian dilarang keras untuk dikumandangkan setelah Jepang berhasil merebut seluruh kawasan Hindia Belanda.

Akan tetapi, ketika kedudukan Jepang mulai terdesak akibat kekuatan bala tentara Sekutu, Jepang pun kembali menarik hati rakyat dengan memperkenankan para pemimpin Indonesia untuk mendirikan Panitia Persiapan Kemerdekaan dan membentuk sebuah Panitia Lagu Kebangsaan.

Panitia Lagu Kebangsaan 1944 melakukan beberapa perubahan terhadap musik serta susunan kata-kata syair lagu, namun struktur, komposisi, dan tema lagu tetap dipertahankan keasliannya. Alasan adanya perubahan tersebut adalah agar lagu Indonesia Raya benar-benar memenuhi syarat sebagai lagu kebangsaan sehingga diadakanlah penyempurnaan.

Ketika kekuasaan Jepang sudah diambang keruntuhan, pemerintah pendudukan bala tentara Jepang di Jawa tidak lagi secara resmi melarang lagu Indonesia Raya berkumandang. Sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan sendirinya lagu Indonesia Raya menjadi lagu kebangsaaan Negara Republik Indonesia juga merupakan lagu kebangsaan bagi seluruh bangsa Indonesia (Bambang Sularto, 1985: 43).

Sesudah proklamasi kemerdekaan sampai dengan bulan Agustus 1948, tidak ada keseragaman dalam cara orang memperdengarkan dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam berbagai upacara sehingga  dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1958 tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Lagu Indonesia Raya menurut PP No. 44 tahun 1958 berirama 4/4 dan diberi petunjuk “CONBRAVURA”, maksudnya dengan cemerlang.