museumberjalan.id – Mendengar nama ketoprak, bisa menimbulkan persepsi yang berbeda. Masyarakat di Jawa bagian tengah biasa melihat ketoprak sebagai seni pertunjukkan tradisional. Biasanya pementasan mengambil cerita legenda atau kisah sejarah Jawa. Baik fiksi atau nonfiksi.

Sedangkan orang-orang di Jakarta dan sekitarnya lebih mengenal ketoprak sebagai makanan. Bahan-bahan utamanya terdiri dari ketupat, tahu, bihun, taoge, yang dilengkapi dengan sambal kacang, kecap manis, bawang goreng, dan kerupuk. Terkadang ada tambahan telur dadar atau rebus.

Karena judul tulisan ini mencatut kata Jakarta, maka penulis memutuskan untuk mengulas ketoprak yang lebih dikenal sebagai makanan.

Ketoprak sangat mudah ditemui di Jakarta (dan sekitarnya) yang dijajakan oleh penjualnya menggunakan gerobak. Meski begitu, asal usul penamaan ketoprak di Jakarta banyak dipertanyakan. Kalau bertanya kepada Mbah Gugel, jawabannya banyak banget. Malah bikin bingung.

Daripada penulis kebingungan sendiri menyadur dari sumber-sumber yang ditampilkan Mbah Gugel, dan keabsahannya sulit dipastikan, penulis memilih sumber tersendiri. Dalam hal ini, penulis mengacu kepada artikel pada harian Berita Indonesia edisi 1 Agustus 1963 untuk menjelaskan asal-usul ketoprak di Jakarta.

Dikisahkan, pada masa krisis ekonomi dunia 1930-an atau yang dikenal juga sebagai “masa malaise”, ada sekelompok penampil ketoprak yang berasal Madiun bernama “Langenhardjo” yang dipimpin Djojosoekarno. Kelompok Langenhardjo bertempat tinggal di Kampung Jawa, Kelurahan Krukut, Jakarta (waktu itu masih lazim disebut Betawi).

Semasa krisis itulah, beberapa seniman ketoprak mencari tambahan penghasilan dengan berjualan tahu goreng dengan menggunakan pikulan. Maklum, namanya juga masa sulit. Mereka menjajakan dagangannya di sekitaran Kampung Jawa.

Ternyata, tahu goreng ini sangat disukai oleh para penduduk. Mereka cukup sering membelinya. Sang penjual yang memang sudah terkenal lebih dulu sebagai seniman ketoprak, kebanjiran rejeki tambahan lewat jualan tahu goreng.

Berkat ketenarannya sebagai seniman ketoprak, para pembeli tahu goreng tidak memanggil sang penjual dengan sapaan “Bang, tahu goreng!”, tetapi “Bang, ketoprak!”. Sejak itulah lahir nama “ketoprak” untuk makanan yang berisikan tahu goreng yang dicampur taoge beserta sambal kacangnya.