… museum tidak mesti selalu mengenai sejarah

Membicarakan museum, kebanyakan orang berpendapat jika museum berkaitan dengan sejarah, jadul, lawas, kuno, klasik, atau bahkan angker. Tapi apakah melulu seperti itu gambaran museum di benak banyak orang? Sebenarnya, apa itu museum?

Menurut Direktorat Museum dalam Pedoman Museum Indonesia (2008), secara bahasa “museum” berasal dari kata dalam bahasa Yunani, yakni mouseion, yaitu kuil untuk sembilan Dewi Muze, anak–anak Dewa Zeus yang tugas utamanya adalah menghibur.

Sedangkan Edward Porter Alexander dan Mary Alexander dalam Museums in motion: an introduction to the history and functions of museums (2007), mengatakan bahwa museum adalah lembaga yang menyimpan koleksi artefak dan benda-benda lain yang memiliki kepentingan artistik, budaya, sejarah, atau ilmiah. Banyak museum publik memamerkan koleksinya untuk dilihat publik melalui pameran permanen atau sementara.

Sementara itu, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1995 menyatakan museum adalah lembaga tempat menyimpan, merawat, mengamankan, dan memanfaatkan benda – benda bukti material hasil budaya manusia serta alam lingkungannya, guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa untuk kepentingan generasi yang akan datang.

Yang terbaru mengenai pengertian museum, dirumuskan pada 7 September 2019 dalam sidang Internasional Council of Museums (ICOM) di Kyoto, Jepang. Dilansir dari icom.museum, museum menyediakan ruang yang demokratis dan terbuka untuk dialog kritis tentang masa lalu dan masa depan.

Memahami dan mengatasi konflik dan tantangan saat ini, mereka memegang artefak dan spesimen yang dipercayakan untuk masyarakat, memelihara ingatan yang beragam untuk generasi masa depan dan menjamin persamaan hak dan akses yang sama ke pusaka untuk semua orang.

Kemudian, museum bukan untuk mencari keuntungan. Mereka partisipatif dan transparan, dan bekerja dalam kemitraan aktif dengan berbagai komunitas untuk mengumpulkan, melestarikan, meneliti, menunjukkan, dan meningkatkan pemahaman dunia, yang bertujuan untuk berkontribusi pada martabat manusia dan keadilan sosial, kesetaraan global dan kesejahteraan planet ini. 

Berdasarkan pengertian–pengertian di atas, terdapat dua fungsi museum, yaitu tempat pelestarian dan sumber informasi. Museum berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pelestarian barang–barang peninggalan manusia dan lingkungan dari masa yang sudah berlalu. Barang–barang yang dirawat oleh pihak museum sangat berguna sebagai sumber informasi bagi generasi selanjutnya.

Museum juga banyak ragam jenisnya. Pembagian jenis ditentukan berdasarkan kriteria tertentu. Jenis–jenis dari museum sangat menentukan koleksi barang–barang yang dipamerkan di dalamnya. Beda pihak yang merumuskannya, beda pula hasil rumusan jenis museumnya.

UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa) membagi jenis–jenis museum berdasarkan koleksinya ke dalam 13 golongan, yakni seni rupa, seni dekoratif, seni kontemporer, bekas rumah atau gedung bersejarah, arkeologi, situs atau monumen, sejarah, ilmu pengetahuan alam dan sejarah alam, sains dan teknologi, etnografi dan antropologi, khusus, umum, dan lainnya.

Sedangkan berdasarkan kepemilikan, biasanya museum dimiliki oleh pemerintah atau swasta. Bisa juga gabungan di antara keduanya. Terakhir, berdasarkan tingkatan koleksinya, dapat dibagi menjadi tiga jenis museum, yakni museum nasional, museum regional, dan museum lokal.

Dari penjelasan di atas, sangat jelas jika museum tidak mesti selalu mengenai sejarah. Begitu juga sebaliknya. Sejarah tidak hanya di museum! Loh, ini kan, slogannya museumberjalan.id.