museumberjalan.id – Sepak bola merupakan olahraga yang paling populer di muka bumi. Daya tarik olahraga yang satu ini seolah menghipnotis penontonnya. Terlebih jika si kulit bundar itu dimainkan oleh para pemain bintang kelas dunia. Sepak bola juga memiliki kejuaraan elit tingkat dunia yang menjadi salah satu kejuaraan paling banyak ditonton di seluruh dunia, yakni FIFA World Cup.

Ide Awal Kejuaraan

FIFA World Cup atau Piala Dunia sepak bola atau piala dunia saja, pertama kali diadakan pada tahun 1930. Piala Dunia diselenggarakan oleh Presiden FIFA (Federasi Sepak Bola Dunia) saat itu, Jules Rimet, akibat cabang sepak bola dikeluarkan dari Olimpiade 1932 di Los Angeles.

Uruguay yang merupakan negara dari Amerika Selatan dipilih menjadi tuan rumah piala dunia yang pertama dengan alasan, saat itu tim nasional sepak bola Uruguay sangat kuat dan disegani. Prestasinya tidak main-main dengan menggondol gelar back-to-back medali emas di Olimpiade Paris 1924 dan Amsterdam 1928.

Para negara peserta haruslah merupakan anggota FIFA, yang diundang khusus dan diberi waktu tersendiri untuk memutuskan keikutsertaannya. Sehingga piala dunia tahun 1930 menjadi satu-satunya kejuaraan piala dunia yang tanpa jalur kualifikasi.

Pemilihan negara peserta ini memiliki permasalahan yang rumit bagi negara-negara dari Eropa. Hal ini disebabkan oleh jauhnya jarak yang harus ditempuh saat itu menggunakan kapal laut. Hal ini ditambah bahwa ketika itu Eropa sedang mengalami depresi ekonomi. Perlu dicatat, kebanyakan pemain bola saat itu memiliki profesi di luar mereka bermain sepak bola. Tidak seperti saat ini yang sepak bola memang menjadi profesi utama para pesepak bola.

Tentu hal itu memberatkan para pemain Eropa yang harus meninggalkan negerinya ke Uruguay berbulan-bulan sambil dibayangi akan kehilangan pekerjaan utama mereka. Sehingga negara-negara top Eropa seperti Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, dan Belanda harus absen di kejuaraan piala dunia yang pertama ini.

Namun, setelah Uruguay bersedia menanggung beban biaya perjalanan dan berkat lobi-lobi khusus, akhirnya Eropa mengirimkan empat wakilnya, yaitu Belgia, Prancis, Rumania dan Yugoslavia.

Persiapan Tim Asal Eropa

Keempat wakil Eropa ini memiliki kisahnya tersendiri dalam mempersiapkan timnya. Rumania akhirnya berangkat setelah Raja Carol II dari Rumania, yang saat itu baru saja terpilih, memilih pemain untuk diberangkatkan dan memberi jaminan kepada atletnya yang terpilih tidak akan kehilangan pekerjaannya selepas pulang dari Uruguay.

Lain cerita dengan Prancis dan Belgia yang pada akhirnya ikut berkat dorongan “orang dalam” mereka yang saat itu memiliki jabatan di FIFA. Jules Rimet merupakan sang Presiden FIFA yang memang asal Prancis dan Rodolphe Seeldrayers, wakil Presiden FIFA yang berasal dari Belgia.

Timnas Romania. Sumber Foto: Fifa.com

Ketiga negara tersebut berangkat menggunakan kapal Conte Verde. Rumania berangkat dari Genoa. Sementara itu Belgia dan Prancis, serta beberapa pejabat FIFA dan perangkat pertandingan dijemput di Paris. Lalu tiba di Rio de Janeiro untuk menjemput tim nasional Brazil. Setelah menempuh pelayaran selama 15 hari, rombongan besar tiba di Uruguay.

Yugoslavia seharusnya juga ikut bergabung di kapal Conte Verde. Namun karena permasalahan terkait pemilihan siapa yang bergabung dengan skuad ke Uruguay membuat mereka telat untuk bergabung dengan tim Eropa lain.

Berlangsungnya Kejuaraan

Setelah segala persiapan terlaksana, piala dunia pun dimulai yang semuanya berlangsung di Montevidio, Uruguay dengan menggunakan tiga stadion. Estadio Centenario menjadi stadion utama dengan kapasitas 90.000 penonton. Awalnya stadion ini yang akan menjadi tempat partai pembuka dan penutup kejuaraan. Namun, akibat keterlambatan pembangunan, stadion baru bisa digunakan beberapa hari setelah pembukaan.

Terdapat 13 negara yang mengikuti FIFA World Cup 1930 yaitu 7 negara dari Amerika Selatan (Argentina, Chili, Brasil, Bolivia, Uruguay, Peru, dan Paraguay), 4 negara Eropa (Belgia, Rumania, Prancis, Yugoslovia), dan 2 negara Amerika Utara (Amerika Serikat dan Meksiko) yang dibagi dalam 4 grup.

Trofi Piala Dunia 1930. Sumber Foto: Fifa.com

Masing-masing grup terdapat 3 negara, kecuali grup A yang berisikan 4 negara. Hari pertama kejuaraan dibuka dengan dua pertandingan sekaligus, yaitu Prancis yang menang atas Meksiko 4-1 dan Amerika Serikat yang menang 3-0 atas Belgia.

Dalam catatan resmi FIFA, pemain Prancis Lucien Laurent menjadi pencetak gol pertama dalam sejarah Piala Dunia. Sementara itu, kiper Amerika Serikat Jimmy Douglas mencatat clean sheet resmi pertama dalam kejuaraan. Sebuah rekor yang akan senantiasa dikenang.

Begitu seluruh pertandingan grup selesai, diambil tiap juara grup menuju semifinal. Didapatlah 4 negara, yaitu Argentina, Amerika Serikat, Uruguay, dan Yugoslavia. Pada pertandingan semifinal pertama, Argentina menang telak dengan skor 6-1 atas Amerika Serikat Pada pertandingan lainnya, tuan rumah Uruguay menggilas Yugoslavia dengan skor 6-1 pula.

Pertandingan final mempertemukan dua seteru Amerika Selatan, Argentina dan Uruguay. Sebelum pertandingan dimulai, sempat terjadi perselisihan dalam pemilihan bola yang akan dipakai, hingga akhirnya diputuskan bola pilihan Argentina digunakan di babak pertama dan bola pilihan dari tim Uruguay digunakan di babak kedua.

Pertandingan Piala Dunia 1930. Sumber Foto: Fifa.com

Pertandingan yang berlangsung sengit akhirnya dimenangkan oleh Uruguay dengan skor akhir 4-2. Uruguay menjadi negara yang menjuarai FIFA World Cup 1930, piala dunia sepak bola edisi pertama dan berhak untuk menyimpan piala emas yang dijuluki The Goddess of Victory.

Begitulah gambaran betapa rumitnya dan belum matangnya baik dari persiapan pertandingan maupun peraturan kejuaraan FIFA World Cup. Sudah tentu tahun 1930 akan selalu dikenang menjadi awal perjalanan salah satu kejuaraan olahraga yang paling ditunggu oleh seluruh orang di dunia ini.

Sekadar informasi tambahan, Francisco ‘Pancho’ Varallo pemain andalan asal tim nasional Argentina, pemain terakhir yang tersisa dari kejuaraan FIFA World Cup 1930 meninggal dunia pada tahun 2010 di usia yang ke-100 tahun

Kontributor: Muhammad Alvin Alvianno