Jakarta sebagai ibu kota negara saat ini telah memainkan peran penting dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Kehadiran atau pengaruh Islam di Nusantara ini kemudian menyisakan peninggalan atau karya budaya yang berharga, salah satunya pemukiman.

Dalam artikel kali ini, akan disajikan informasi mengenai salah satu kawasan muslim di Jakarta, yaitu Kampung Arab Pekojan. Prof. Van de Berg dalam bukunya “Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara” menyebutkan bahwa sebelum dihuni etnis Arab dari Hadramaut, kawasan tersebut lebih dulu menjadi kediaman orang-orang Koja/Bengali.

Pekojan berasal dari kata “Khoja” atau “Kaja” yang merupakan salah satu nama daerah di India yang penduduknya sebagian besar ialah pedagang muslim. Orang-orang Koja/Bengali itu kemudian merantau ke berbagai belahan dunia untuk berdagang dan juga menyebarkan agama Islam. Sebagian dari mereka merantau ke Batavia (sebutan Jakarta saat pemerintahan Hindia Belanda) dan bermukim di sana. Oleh sebab itu, kawasan tersebut kemudian dinamakan Pekojan atau tempat tinggal orang-orang Koja.

Pada abad ke-18, Pekojan disebut sebagai Kampung Arab karena pada saat itu banyak dihuni oleh pendatang imigran dari Hadramaut/Yaman Selatan. Pada masa Kolonial Belanda, VOC menetapkan kebijakan Wijkenstelsel, yaitu dengan menempatkan orang di suatu lokasi berdasarkan etnis mereka. Misalnya, etnis Arab berlokasi di Pekojan, sedangkan etnis Tionghoa berlokasi di Glodok.

Baca Juga: Warga Tionghoa di Indonesia: Bertahan dari Berbagai Diskriminasi Etnis

Hal itu menyebabkan kawasan Pekojan tidak hanya dihuni oleh orang India, tetapi juga orang Arab, bahkan orang Tionghoa. Dalam perkembangan lebih lanjut, mayoritas penduduk di kawasan Pekojan bukanlah etnis Arab lagi, melainkan etnis Tionghoa. Hal itu yang menyebabkan kawasan Pekojan memiliki karakteristik berupa percampuran kebudayaan etnis Arab dengan etnis Tionghoa.

Bagi masyarakat muslim, masjid dikatakan sebagai tempat bermulanya peradaban Islam. Keberadaan penduduk Batavia yang mayoritas Islam telah menambah kebutuhan akan rumah ibadah seperti masjid dan mushola. Oleh sebab itu, jumlah masjid yang dibangun pada masa pemerintah kolonial Belanda cukup banyak. Beberapa bangunan masjid kuno tersebut masih berdiri dan dinyatakan sebagai cagar budaya.

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 tahun 1993 tentang Penetapan Bangunan-Bangunan Bersejarah di DKI Jakarta sebagai Benda Cagar Budaya menyebutkan bahwa di kawasan Pekojan terdapat 16 buah bangunan yang dilindungi, berupa masjid dan rumah tinggal berlanggam Cina yang dibangun pada abad ke-17 hingga ke-19 (Ari Suprihatin, dkk, 2009: 2).

Dalam artikel kali ini akan dibahas tiga masjid yang terdapat di kawasan Kampung Arab Pekojan. Pertama ialah Masjid Langgar Tinggi yang dibangun pada tahun 1829 dan terbuat dari kayu. Keunikan dari masjid ini ialah bentuknya yang memanjang dan berada di lantai dua. Di bagian bawah atau lantai satu masjid terdapat deretan toko minyak wangi yang sudah ada sejak masa kolonial Belanda.

Kedua ialah Masjid Al-Ansor yang juga merupakan masjid bersejarah di Kampung Arab Pekojan. Menurut Adolf Heukeun (ahli sejarah kolonial Jakarta) masjid ini merupakan masjid tertua di Jakarta yang awalnya adalah sebuah surau dan dibangun pada tahun 1648. Di belakang masjid itu terdapat tiga makam yang diduga makam orang India dan merupakan pendiri masjid Al-Ansor.

Masjid terakhir yang akan dibahas ialah Masjid An-Nawier yang dibangun pada tahun 1760 dan merupakan masjid terbesar di Jakarta Barat. Masjid tersebut memiliki ciri khas menara yang menjulang setinggi 17 meter layaknya mercusuar. Selain itu,  terdapat 33 tiang di ruangan shalat sebagai simbol wirid setelah shalat lima waktu. Terdapat juga makam Syarifah Fatmah binti Husein Alaydrus yang menjadi tujuan ziarah bagi para pengunjung masjid.