Jugun Ianfu. Apakah ada yang tahu istilah ini? Bagi orang yang mengetahui tentang sejarah, terutama seputar pendudukan Jepang, mungkin akan menunjukkan reaksi wajah mengernyit ketika mendengar dua kata ini. Pasalnya, Jugun Ianfu atau comfort women dikenal sebagai para perempuan penghibur para tentara Jepang.

Sebenarnya, siapakah para jugun ianfu itu? Istilah Jugun Ianfu berasal dari kata Ju = Ikut, Gun = Militer atau Balatentara, Ian = Penghibur, Fu = Perempuan. Jadi kata “Jugun Ianfu” artinya adalah “perempuan penghibur yang ikut militer”. Dengan demikian, jugun ianfu secara literatur dapat diartikan sebagai perempuan penghibur yang mengikuti tentara (Jepang) untuk memberikan kesenangan.

Awal Mula

Perang Asia Timur Raya telah membuat kelelahan fisik dan mental tentara Jepang. Di wilayah jajahan Jepang di Cina, militer Jepang telah melakukan pemerkosaan yang brutal tanpa memandang usia dan tempat yang menyebabkan sebagian besar tentara Jepang yang bertugas di tempat tersebut terjangkit penyakit kelamin.

Hal ini menyebabkan kekuatan militer Jepang yang ada di Cina melemah. Seorang dokter bernama Aso Tetsuo kemudian menyarankan agar militer Jepang segera membangun fasilitas prostitusi yang diawasi langsung oleh para pusat militer Jepang. Usul ini lalu ditindaklanjuti oleh kekaisaran Jepang, yang mulai melakukan perekutan perempuan penghibur (Jugun Ianfu) untuk melayani kebutuhan seksual militer Jepang.

Terkurung dalam Ianjo

Para jugun ianfu ini ditempatkan di dalam rumah-rumah pelacuran yang disebut ianjo, yang berada di sekitar barak-barak militer Jepang selama perang Asia-Pasifik.

Dengan tersedianya ianjo dan jugun ianfu di bawah pengawasan resmi, pemerintah Jepang berharap dapat mencegah penyebaran penyakit kelamin di kalangan tentara Jepang, serta meningkatkan kinerja para tentara.

Pada awal kekuasaannya di Indonesia (tahun 1942),  Jepang mendatangkan jugun ianfu dari Korea dan Cina, namun tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan seks para tentara Jepang. Oleh karena itu militer Jepang mulai merekrut perempuan Indonesia dan perempuan Belanda.

Dalam proses perekrutan jugun ianfu, pihak Jepang bekerja sama melalui unit tonarigumi (wedana, lurah, camat). Jepang memanfaatkan hubungan sosial antarwarga seperti hubungan antarkeluarga, antarteman, antertetangga

Para perempuan yang direkrut menjadi jugun ianfu ini lalu dibawa ke tempat yang bernama ianjo, berasal dari kata Ian = Hiburan, dan Jo = Tempat.  Umumnya ianjo ini merupakan bangunan tertutup rapat dengan pagar yang tinggi. Kadang kondisi ianjo tidak memadai, di mana tidak ada sanitasi air bersih untuk pemeliharaan dan kebersihan para penghuninya.

Baca Juga: Jugun Ianfu: Jangan Panggil Aku Miyako 

Kamp Ianjo di Cimahi. Sumber Foto: ceritasamping.wordpress.com

Ianjo ini lalu dibagi-bagi lagi menjadi kamar-kamar dalam ukuran yang lebih kecil, hanya disekat dengan sebuah tembok, bahkan ada kamar yang disekat dengan papan atau tirai saja. Di dalam kamar-kamar ini terdapat sebuah tempat tidur yang menjadi tempat para jugun ianfu berbaring melepas lelah sekaligus tempat untuk memuaskan nafsu seks dari tentara Jepang. Selain tempat tidur, juga ada sebuah meja kecil beserta dua buah kursi dan wastafel untuk mencuci muka. Ukuran kamar jugun ianfu di ianjo Telawang adalah 3 m x 2,5 m.

Sebelum para perempuan ini melayani para tamu, ada pemeriksaan kesehatan terlebih dulu. Pemerikaan kesehatan ini dilakukan untuk menghindari berbagai macam penyakit kelamin. Pada pemeriksaan kesehatan ini, kemaluan jugun ianfu diperiksa dengan menggunakan alat yang disebut dengan cocor bebek atau spekulum cusco.

Melalui alat ini, bisa dilihat apakah kemaluan perempuan tersebut masih sehat atau sudah terserang penyakit kelamin. Tujuan lainnya adalah juga untuk mengetahui apakah para perempuan ini masih perawan atau tidak. Pemeriksaan ini dilakukan seminggu sekali.

Semua ianjo memiliki aturan yang sama, yaitu keharusan untuk memakai kaputjes (kondom), larangan membawa senjata dan minuman keras, pemberian cairan pencuci alat kelamin untuk jugun ianfu, pemeriksaan kesehatan setiap hari yang dilakukan oleh petugas kesehatan (mantri) dan pemeriksaan seminggu sekali oleh dokter Jepang, yang terkadang dia juga ikut memerkosa jugun ianfu.

Selama tinggal di dalam ianjo, kebutuhan hidup jugun ianfu disediakan oleh pengelola ianjo. Mereka mendapat jatah makan tiga kali sehari, pakaian, alat mandi, dan fasilitas kesehatan. Pada masa awal pendudukan Jepang di Indonesia, semua kebutuhan hidup sehari-hari jugun ianfu ini dapat terpenuhi.

Namun ketika pada masa akhir pendudukan Jepang, sekitar tahun 1943, pemenuhan kebutuhan dan persediaan makanan untuk jugun ianfu makin menurun. Sehingga banyak dari para jugun ianfu yang kemudian menderita sakit dan tidak dapat disembuhkan.

Untuk bekerja menjadi jugun ianfu adalah sebuah takdir pahit bagi wanita mana pun. Apalagi bagi para perempuan pribumi yang awalnya tidak tahu akan dijadikan budak seks bagi tentara Jepang. Tidak semua tamu yang merupakan tentara Jepang yang datang bersikap baik dan sopan terhadap para jugun ianfu.

Para tentara Jepang seringkali memberikan luka fisik dan luka psikis kepada jugun ianfu. Kekerasan fisik yang diterima oleh para jugun ianfu antara lain berupa tendangan, pukulan dengan senjata, dan juga tamparan, apalagi saat para tentara Jepang dalam keadaan mabuk. Jika mereka merasa kurang puas dengan pelayanan jugun ianfu maka mereka melakukan siksaan lainnya.

Setiap harinya, para jugun ianfu harus melayani sekitar 10-15 orang tentara Jepang.  Mereka diperkosa dengan brutal, apabila ada yang sampai hamil, maka kandungannya harus segera digugurkan baik dengan cara meminum obat-obatan maupun dengan cara kekerasan, seperti yang dialami oleh Mardiyem, jugun ianfu asal Yogyakarta.

Kekerasan yang selalu dialami para jugun ianfu membuat beberapa dari mereka berusaha untuk melarikan diri. Namun jika mereka melarikan diri dan tertangkap kembali, mereka akan mengalami keadaan yang lebih berat. Ada juga yang mencoba melakukan tindakan bunuh diri, seperti melukai diri mereka sendiri dan meminum racun. Banyak dari para jugun ianfu yang akhirnya menjadi sakit dan gila. Untuk para jugun ianfu yang sakit, umumnya menderita penyakit kelamin, maka ia akan diberikan obat-obatan .

Namun pada tahun 1943 yaitu masa akhir pendudukan Jepang di Indonesia, suplai obat-obatan untuk jugun ianfu mulai menipis. Jika jugun ianfu ada yang meninggal, mayatnya akan dibiarkan membusuk tanpa ada yang mengurus.

Setiap hari Sabtu, dilakukan penyuntikan antiobiotik oleh para dokter yang datang ke ianjo.  Jugun ianfu juga sering menjadi korban pemerkosaan dari para dokter yang seharusnya hanya memeriksa kondisi kesehatan mereka. Para dokter yang memeriksa jugun ianfu ini lalu memerkosa mereka di siang hari yang seharusnya menjadi waktu istirahat mereka seperti kasus di Semarang.

Selain kekerasan fisik, para jugun ianfu juga mengalami kelelahan mental. Bagaimanapun, banyak dari para jugun ianfu yang tidak tahu kalau akhirnya mereka harus bekerja sebagai budak seks Jepang, terutama para perempuan yang termakan janji-janji pekerjaan dan pendidikan dari Jepang. Namun kini kenyataannya mereka harus bekerja sebagai jugun ianfu dan tinggal di dalam ianjo yang merupakan bangunan yang tertutup dengan pagar tinggi sehingga mereka terisolir dari dunia luar. Belum lagi anggapan dari masyarakat sekitar yang menganggap hina para jugun ianfu.

Melihat kondisi para jugun ianfu di atas, sudah sepatutnya menjadi refleksi bagi kita, terutama para perempuan yang hidup di masa sekarang. Pada saat itu, kondisi perempuan para jugun ianfu bisa dikatakan sangat terpuruk dan menyedihkan. Sangat berbeda dengan masa sekarang, di mana para perempuan sudah memiliki kemerdekaan atas dirinya sendiri dan bisa melakukan hal-hal yang mereka sukai. Cerita tentang jugun ianfu sudah sepatutnya diketahui oleh para generasi muda terutama para perempuan, sebagai fakta sejarah dan tidak perlu ditutup-tutupi kebenarannya.