Setelah Perang Dunia II, timbul dua poros kekuatan politik dunia yang saling bertentangan. Mereka ialah Amerika Serikat dan Uni Soviet atau kita kenal dengan Blok Barat dan Blok Timur. Kedua kekuatan tersebut berlomba untuk menyusun dan mengembangkan kekuatannya dalam berbagai bidang. Mereka pun menuntut setiap negara memilih diantara keduanya.

Indonesia sebagai negara yang baru saja mendapatkan kedaulatan dari Belanda, segera memutuskan arah politik luar negeri. Hasilnya, Indonesia memutuskan politik luar negeri bebas aktif. Makna dari sikap bebas ialah tidak memilih salah satu pihak untuk selamanya dengan mengikat diri kepada salah satu dari dua blok dalam pertentangan itu dan tidak mengikat diri untuk selamanya atau akan bersikap netral dalam tiap peristiwa yang terbit dari pertentangan dua blok. Sementara makna aktif merujuk pada Indonesia berusaha sekuat-kuatnya untuk memelihara perdamaian dan meredakan pertentangan sesuai dengan cita-cita PBB (Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia, 326-329).

Dalam menyikapi dua kekuatan dunia itu, Indonesia tetap menggunakan politik luar negeri bebas aktif. Peran Indonesia terlihat dari keberlanjutan Konferensi Kolombo (28 April – 2 Mei 1954) yang diadakan oleh Ali Sastroamidjojo kepada Perdana Menteri Myanmar, India, Pakistan, dan Sri Lanka mengenai pertemuan dengan pemimpin negara lainnya di kawasan Asia – Afrika.

Ali Sastroamidjojo selaku Perdana Menteri Indonesia saat itu kembali mengunjungi India (25 September 1954). Di akhir kunjungan, dikeluarkan Pernyataan Bersama Indonesia – India yang menekankan perlu diadakannya konferensi negara Asia – Afrika untuk menunjang perdamaian dunia dan mengadakan pendekatan mengenai masalah yang tengah dihadapi. Begitu pun saat Ali mengunjungi Myanmar (Burma saat itu).

Pertemuan Kolombo kembali diadakan di Indonesia tepatnya di Bogor, 28 – 31 Desember 1954 dengan hasil:
1. Mengadakan Konferensi Asia Afrika di Bandung dalam bulan April 1955
2. Menetapkan kelima negara peserta Konferensi Bogor sebagai negara-negara sponsor
3. Menetapkan 25 negara Asia Afrika yang akan diundang
4. Menentukan 4 tujuan pokok dari Konferensi Asia Afrika

Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia, dalam buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid 6: Zaman Jepang dan Zaman Republik menjelaskan 4 tujuan pokok Konferensi Asia Afrika sebagai berikut:
1. Memajukan kemauan baik dan kerja sama antara bangsa-bangsa Asia – Afrika dalam menjelajah dan memajukan kepentingan bersama mereka serta menjaga hubungan persahabatan dan tetangga baik
2. Meninjau dan mempertimbangkan masalah-masalah hubungan sosial, ekonomi, dan kebudayaan dari negara-negara yang diwakili
3. Mempertimbangkan masalah kepentingan khusus (kedaulatan nasional, rasialisme, dan kolonialisme) dari bangsa-bangsa Asia Afrika
4. Meninjau kedudukan Asia Afrika dan rakyatnya serta memberikan sumbangan yang dapat diberikan dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia.

Konferensi Asia Afrika kemudian diadakan pada tanggal 18 – 25 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat. Konferensi dihadiri oleh 24 negara undangan dan 5 negara pengambil prakarsa. Mengutip tirto.id, Sukarno membacakan pidato yang berjudul “Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru”.

Saya berharap konferensi ini akan menegaskan kenyataan, bahwa kita, pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, mengerti bahwa Asia dan Afrika hanya dapat menjadi sejahtera, apabila mereka bersatu, dan bahkan keamanan seluruh dunia tanpa persatuan Asia Afrika tidak akan terjamin. Saya harap konferensi ini akan memberikan pedoman kepada umat manusia, akan menunjukkan kepada umat manusia jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai keselamatan dan perdamaian.

Sukarno

Terselenggaranya Konferensi Asia Afrika menghasilkan beberapa dokumen, yaitu Basic Paper on Racial Discrimination dan Basic Paper on Radio Activity. Kedua dokumen tersebut dianggap sebagai bagian dari keputusan konferensi. Ada juga dokumen yang dikenal dengan nama Dasasila Bandung mengenai 10 prinsip yang tercantum dalam Declaration on the Promotion of World Peace and Cooperation.

Dengan diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika di Bandung, Jawa Barat ini rupanya membuka mata para negara-negara lain bahwa negara dunia ketiga atau negara berkembang dapat menyelenggarakan konferensi politik. Meskipun mendapat banyak dukungan, konferensi ini kemudian membawa Indonesia dalam Gerakan Non Blok (GNB).