museumberjalan.id – Bandara, yang merupakan singkatan dari bandar udara, adalah tempat yang disediakan bagi pesawat terbang untuk lepas landas dan mendarat. Bandara kelas internasional biasa melayani keluar-masuk pesawat terbang lintas negara. Tak heran jika bandara disebut-sebut sebagai pintu gerbang suatu negara.

Pada masa kini, bandara kelas internasional yang terkenal di Indonesia ada Soekarno-Hatta di Tangerang dan I Gusti Ngurah Rai di Denpasar. Meski sangat terkenal, keduanya bukan yang pertama kali dibangun di Indonesia. Bandara kelas internasional yang pertama dibangun di negeri ini terletak di Kemayoran, Jakarta Pusat.

Dibangun Belanda, sempat Dikuasai Jepang, dan Dikuasai Belanda kembali

Menurut Windoro Adi dalam Batavia, 1740: Menyisir Jejak Betawi, Bandara Kemayoran mulai dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1934. Pembangunannya memakan waktu yang tidak sebentar.

Setelah 6 tahun, Bandara Kemayoran selesai dibangun dan diresmikan pada 8 Juli 1940. Pengelolaan bandara kemudian dipegang oleh Koninklijke Nederlands Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM).

Bandara Kemayoran. Sumber Foto: Wikipedia.

Dua hari sebelum peresmian, yakni tanggal 6 Juli, digelar uji coba. Pesawat pertama yang mendarat adalah DC-3 milik KNILM. Pesawat itu lepas landas dari Lapangan Udara CIlilitan, sekarang Bandara Halim Perdanakusuma.

Bandara Kemayoran memiliki dua landasan pacu yang bersilangan, yakni landasan pacu Utara – Selatan (17-35) dengan ukuran 2.475 x 45 meter dan landasan pacu Barat – Timur (08-26) dengan ukuran 1.850 x 30 meter.

Dilansir dari Tirto, pesawat – pesawat milik KNILM yang pernah mangkal di Bandara Kemayoran adalah jenis Douglas DC-2 Uiver, Douglas DC-3 Dakota, Fokker F.VIIb 3m, Grumman G-21 Goose, de Havilland DH-89 Dragon Rapide, Lockheed L-14 Super Electra, Douglas DC-5 dan Sikorsky S-43 Baby Clipper.

Selain pesawat-pesawat milik KNILM, ada pula pesawat milik Aeroclub Batavia seperti Buckmeister Bu-131 Jungmann, de Haviland DH-82 Tigermoth, Piper J-3 Cub dan Walraven 2.

Jenis – jenis pesawat yang disebut di atas pernah mengisi pameran kedirgantaraan yang diadakan di Bandara Kemayoran untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus 1940.

Ketika Perang Dunia II pecah, Bandara Kemayoran turut digunakan oleh pesawat-pesawat militer Belanda dan Sekutu. Pesawat-pesawat militer itu terdiri atas berbagai macam, di antaranya Martin B-10, Martin B-12, Koolhoven F.K.51, Brewster F2A Buffalo, Lockheed L-18 Lodestar, Curtiss P-36 Hawk, Fokker C.X dan Boeing B-17 Flying Fortress.

Begitu peperangan berlangsung semakin sengit, Bandara Kemayoran menjadi sasaran serangan pesawat-pesawat milik Angkatan Udara Kekaisaran Jepang pada 9 Februari. Keadaan yang gawat ini memaksa KNILM mengungsikan armada pesawatnya ke Australia. Pada akhirnya Bandara Kemayoran jatuh ke dalam penguasaan Jepang, setelah Belanda menyatakan menyerah tanpa syarat di Kalijati pada 8 Maret 1942.

Bandara Kemayoran pun kembali dikuasai pihak Belanda melalui NICA dan Sekutu menyusul kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II. Belanda sempat kembali mendirikan maskapai penerbangan sipil yang bernama KLM Interinsulair Bedrijf (KLM IIB) pada 1 Agustus 1947 dan bermarkas di Kemayoran.

Bandara Kemayoran dalam penguasaan Belanda hingga tahun 1949, atau berakhirnya masa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Setelah penandatanganan KMB, pengelolaan Bandara Kemayoran dan KLM IIB diserahkan kepada Pemerintah Indonesia. KLM IIB lalu diganti namanya menjadi Garuda Indonesian Airways.

Memasuki Masa Kejayaan

Pada dekade 1950-an, Pemerintah Indonesia mengambil alih pengelolaan banyak bandar udara dan penerbangan sipil dengan membentuk Djawatan Penerbangan Sipil, yang kini dikenal sebagai Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Dalam buku Aviapedia: Ensikopledia Umum Penerbangan (2011) disebutkan, pengelolaan Bandara Kemayoran diserahkan dari Djawatan Penerbangan Sipil kepada Perusahaan Negara Angkasa Pura Kemayoran antara tahun 1962-1964. Maskapai Garuda tetap menjadi pelanggan utama di Kemayoran.

Pada masa kejayaannya di paruh awal dekade 1960-an, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI, kini disebut TNI AU) sempat menggunakan Bandara Kemayoran sebagai pangkalan udaranya, sebelum Pangkalan Udara Iswahyudi di Madiun diperbaiki.

Bandara Kemayoran mulai ramai diberitakan karena disebut dalam cerita komik The Adventure of Tintin. Dalam seri Flight 714 to Sydney yang terbit tahun 1968, diceritakan dalam perjalanannya dari London menuju Sydney untuk mengikuti kongres Astronotika Internasional, Tintin bersama Kapten Haddock, Profesor Calculus, dan anjingnya Snowy, transit di Bandara Kemayoran.  

Bandara Kemayoran dalam Komik Tintin. Sumber Foto: GNFI

Mereka lalu beralih dari maskapai Qantas Boeing 707 penerbangan 714 ke pesawat pribadi milik milyuner Lazslo Carriedas. Mereka melalui petualangan di Pulau Bompa, wilayah Sondonesia, seperti dikutip dari Historia.

Memasuki masa pemerintahan Orde Baru, penerbangan di Bandara Kemayoran semakin ramai. Pada periode 1970-1980-an, jumlah penerbangan menembus angka 100 ribu pesawat setiap tahunnya.

Untuk mengurangi kepadatan di Kemayoran, pemerintah membuka Bandara Halim Perdanakusuma pada 10 Januari 1974 yang difungsikan sebagai bandara internasional kedua. Banyak penerbangan internasional kemudian dipindahkan ke Halim, meski sebagian besar penerbangan dalam negeri masih berlangsung di Kemayoran.

Di masa jayanya banyak jenis pesawat pernah mampir di Kemayoran. Mulai dari pesawat jenis Fokker dari mulai Fokker F-VIIb-3 dengan mesin torak, Fokker Friendship dengan mesin turbo hingga Fokker F-28 yang bermesin jet pernah mendarat di Kemayoran. Hingga munculnya pesawat berbadan lebar generasi awal seperti Boeing 747 seri 200, DC-10 dan Airbus A-300.

Sejumlah kecelakaan penerbangan tercatat pernah terjadi di Kemayoran. Dalam catatan Ensiklopedi Jakarta, disebutkan pesawat Beechcraft mengalami musibah saat mendarat; Convair 340 mendarat tanpa roda; DC-9 patah badan di landasan; dan DC-3 terbakar; dan yang paling dahsyat kecelakaan Fokker F-27 yang menyebabkan seluruh awaknya meninggal.

Akhir Riwayat Bandara Kemayoran

Di atas telah disebutkan bahwa kegiatan penerbangan di Kemayoran sudah sangat padat memasuki dekade 1970-an. Selain itu, lokasi Bandara Kemayoran dianggap terlalu dekat dengan pangkalan udara militer yang berkedudukan di Halim Perdanakusuma.

Bandara Kemayoran. Sumber Foto: Kompas.

Penentuan lokasi yang demikian membuat penerbangan sipil menjadi sempit, sementara lalu lintas udara meningkat pesat, sehingga mengancam lalu lintas penerbangan internasional. Dikarenakan hal itu kemudian pemerintah berencana untuk memindahkan kegiatan penerbangan di Kemayoran ke bandar udara yang baru. Dengan bantuan USAID, dipilihlah Cengkareng sebagai lokasi bandar udara yang baru.

Pembangunan bandar udara di Cengkareng mulai dilaksanakan pada tahun 1974 dan selesai pada tahun 1985. Setelah dianggap siap digunakan, bandara di Cengkareng resmi menjadi bandar udara utama di Jakarta dan Indonesia.

Peresmian bandara di Cengkareng sebagai pintu gerbang udara Jakarta terjadi pada 1 April 1985. Bandara itu dinamai Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.

Setahun menjelang diresmikannya Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Bandar Udara Internasional Kemayoran perlahan mulai berkurang kegiatannya pada 1 Juni 1984. Hingga akhirnya resmi berhenti beroperasi pada tanggal 31 Maret 1985.

Kembali dikutip dari Tirto, Setelah tak terpakai, area bekas Bandara Kemayoran dipercayakan pengelolaannya kepada Badan Pengelola Kompleks Kemayoran (BPKK) berdasarkan Kepres No 53 tahun 1985 juncto Kepres no 73 tahun 1999. Pelaksana hariannya diserahkan kepada Direksi Pelaksanaan Pengendalian Pembangunan Kompleks Kemayoran (DP3KK).

Pada 1992, bekerja sama dengan pihak swasta, DP3KK membangun rumah susun di Jalan Dakota yang dulunya merupakan lahan apron. Pembangunan tersebut merupakan cikal bakal Kota Baru Bandar Kemayoran.

Kini sisa-sisa jejak bangunan bandara dengan kode KMO ini telah berstatus cagar budaya. Ini dimaksudkan agar orang-orang tidak lupa bahwa di kawasan yang dekat Pekan Raya Jakarta Kemayoran ini pernah ada bandara (internasional). Tidak hanya sekadar mengingat Bandara Kemayoran pernah dimuat sebagai latar dalam komik Tintin.